JOGJA - Fenomena kesadaran kesehatan mental (mental health awareness) kini telah menjadi kebutuhan utama. Khususnya bagi kalangan milenial dan gen z. Ternyata ada alasan khusus kenapa generasi ini cukup sadar terhadap kesehatan mental.
Psikolog Faza Maulida mengatakan, kelompok generasi milenial dan gen z jauh lebih melek terhadap isu kesehatan mental karena kesejahteraan psikologis kini sudah menjadi kebutuhan. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung menganggap kesehatan mental tidak lebih penting dibandingkan kesehatan fisik.
"Sehat sekarang tidak lagi hanya diartikan secara fisik. Tetapi juga mencakup kesejahteraan psikologis dan keberfungsian diri dalam aspek sosial, pekerjaan, hingga kemampuan memecahkan masalah,” ujar Faza kepada Radar Jogja, Jumat (24/4).
Menurutnya, fenomena itu tentu tidak lepas dari berbagai faktor. Salah satunya pengaruh sosial media yang memuat berbagai konten tentang kesehatan mental. Hal itu berpengaruh terhadap bangkitnya kesadaran mental di generasi sekarang.
Faza mengungkapkan, saat ini mulai banyak psikolog membuat konten. Baik dalam bentuk video pendek atau berupa podcast. Di samping itu juga mulai banyak infografis-infografis yang mudah ditemukan lewat postingan-postingan di Instagram.
“Sosial media menaruh kunci yang besar porsinya terhadap spreading awareness kesehatan mental,” tegasnya.
Namun kesadaran kesehatan mental di kalangan gen z dan milenial justru sering dianggap sebagai generasi stroberi yang lemah secara psikologis. Faza tidak menampik hal itu. Namun sejatinya juga tidak benar seluruhnya.
Lantaran, menurutnya, kondisi itu juga dipengaruhi oleh lingkungan di mana milenial dan gen z tumbuh. Perubahan dunia saat ini cenderung terjadi sangat cepat, kemudian persaingan kerja yang ketat, hingga tekanan ekonomi seperti kenaikan harga bahan pokok cukup berpengaruh terhadap kesehatan mental.
Namun bukan kemudian berarti gen z dan milenial merupakan generasi yang lemah. Mereka justru memiliki keberanian untuk bersuara. Di masa lalu, gangguan mental mungkin tidak terlihat karena ketiadaan platform dan rendahnya kesadaran. Kini, media sosial menjadi kunci utama penyebaran edukasi.
"Kenapa terlihat seperti gampang hancur? Karena mereka terdidik untuk lebih asertif. Mereka lantang untuk curhat, mengungkapkan ketidaksukaannya, bahkan juga muncul gerakan seperti work-life balance," ujarnya.
Dikatakan, mereka tidak mau lagi berada dalam kondisi 'diinjak-injak' atau sekadar disuruh-suruh tanpa memperhatikan kesejahteraan diri. (inu/laz)