Kisah Hanafi Membangun Mato Kopi: Berawal dari Hobinya yang Tergusur di Warung Langganan
Fahmi Fahriza• Minggu, 19 April 2026 | 06:07 WIB
Mato Kopi
JOGJA - Malam di kawasan utara Jogjakarta jarang benar-benar sepi. Di antara lalu lalang kendaraan dan ritme kota pelajar yang tak pernah benar-benar tidur, satu tempat tetap menyala secara konsisten, yakni Mato Kopi.
Di sana, waktu berjalan dengan cara yang berbeda. Sekelompok mahasiswa duduk lesehan, laptop terbuka, kabel charger berseliweran. Di sudut lain, obrolan ringan berubah jadi diskusi serius. Ada yang datang hanya untuk menunggu pagi, ada yang memang belum ingin pulang.
Tempat ini bukan sekadar kedai kopi. Ia lebih mirip ruang hidup. Di balik itu semua, ada Hanafi, sosok yang memulai semuanya bukan dari ambisi besar, melainkan dari kebiasaan sederhana: nongkrong.
Awal 2000-an, Hanafi adalah mahasiswa Sejarah Kebudayaan Islam di UIN Sunan Kalijaga. Seperti banyak mahasiswa lain di Jogja, hari-harinya tak jauh dari kampus dan warung kopi.
Ia punya satu tempat langganan. Namun, seiring waktu, warung itu semakin ramai, hingga tak lagi cukup menampung. Bahkan untuk dirinya yang sudah jadi langganan, harus tersisih karena banyaknya pengunjung baru.
Alih-alih mencari tempat lain, Hanafi justru mengambil keputusan yang tidak direncanakan sebelumnya, yakni membuka warung kopi sendiri.
"Awalnya bukan karena ingin buka usaha kopi. Saya memang hobi nongkrong, sering di satu warung kopi langganan, tapi lama-lama penuh terus. Dari situ muncul ide, kenapa tidak bikin sendiri saja," ujarnya pada Radar Jogja, Sabtu (18/4).
Tahun 2005, bersama beberapa rekan dan dukungan finansial keluarga, ia membuka warung kopi kecil di kawasan Babarsari. Ukurannya sederhana, hanya sekitar 3x7 meter. Tidak ada konsep besar. Tidak ada strategi branding. Bahkan menu pun sangat terbatas.
"Dulu itu sederhana sekali. Menu awal di Mato Kopi cuma kopi hitam sama mie instan," tuturnya.
Namun justru dari kesederhanaan itu, sesuatu mulai tumbuh. Hanafi yang lahir dan besar di Madura, daerah dengan tradisi ngopi yang kuat. Kebiasaan itu akhirnya ia bawa ke Jogja, lalu bertemu dengan kultur baru, budaya nongkrong para mahasiswa.
Dua hal itu, tanpa disadari, melebur menjadi identitas Mato Kopi. Dijelaskannya, bahwa nama Mato sendiri diambil dari bahasa Madura, yang berarti candu.
"Mato itu artinya candu atau kecanduan. Memang dari awal ingin bikin tempat yang bikin orang betah," kata Hanafi.
Candu, dalam konteks ini, bukan soal kopi semata. Tapi tentang kebiasaan kembali, lagi dan lagi ke tempat yang sama.
Ia mengungkapkan, awalnya, Mato Kopi tidak buka sepanjang hari. Namun pola pengunjung memberi sinyal yang jelas, bahwa mahasiswa tidak hidup dalam jam normal.
Ada yang datang larut malam. Ada yang baru mulai aktif setelah tengah malam. Ada yang butuh tempat sampai pagi. Setelah beberapa bulan Mato Kopi berjalan, keputusan pun diambil, yakni mengubah operasional menjadi 24 jam penuh.
Selain alasan itu, ia menambahkan bahwa sempat ada momen beberapa barang di Mato Kopi kedapatan di ambil pemulung, saat warung tutup. Sehingga alasan untuk buka 24 jam pun semakin kuat.
"Awalnya tidak 24 jam. Tapi setelah jalan beberapa bulan, ternyata kebutuhan mahasiswa sampai malam bahkan pagi, akhirnya kami putuskan buka 24 jam," ujarnya.
Sejak itu, Mato Kopi bukan hanya tempat minum kopi, tapi turut serta menjadi ruang waktu alternatif bagi mahasiswa.
Dua dekade berlalu, lanskap Jogja berubah drastis. Coffee shop modern kini tumbuh dengan masif di hampir setiap sudut kota, dengan interior estetik, mesin espresso mahal, dan harga yang ikut naik.
Namun Mato Kopi tidak ikut arus itu. Hanafi juga menegaskan bahwa Mato Kopi tidak dalam perencanaan menuju ke sana.
Harga menu tetap sederhana, berkisar Rp5.000 hingga Rp15.000. Saat ini, usaha tersebut memiliki sekitar 25 karyawan yang tersebar di tiga cabang, dengan lokasi utama tetap di Selokan Mataram sejak 2008.
"Kami tidak terlalu khawatir dengan banyaknya cofeshop, karena bukan kompetitor langsung. Segmennya beda, dari menu dan harga juga berbeda," katanya.
Alih-alih bersaing di kualitas kopi specialty, Mato Kopi bermain di hal lain, mulai dari aksesibilitas, durasi, dan kebersamaan.
Jika coffee shop modern sering didesain untuk individu atau kelompok kecil, Mato Kopi justru sebaliknya.
Meja panjang, area luas, hingga lesehan disiapkan untuk mengakomodasi kelompok besar, bahkan hingga puluhan orang. Mahasiswa datang untuk rapat, diskusi, atau sekadar mengerjakan tugas bersama.
"Dari dulu memang kami siapkan tempat yang luas untuk mahasiswa. Supaya bisa belajar, nugas, atau diskusi bareng," kata Hanafi.
Menariknya, perkembangan Mato Kopi tidak sepenuhnya dikendalikan dari dalam. Banyak perubahan justru datang dari luar, lebih tepatnya dari pelanggan itu sendiri.
"Sekarang menu sudah banyak, dan itu sebagian besar dari masukan pelanggan, bahkan mereka juga mengajari kita cara buatnya seperti apa," ujar Hanafi.
Dari hanya kopi hitam dan mie instan, kini menu berkembang mengikuti kebutuhan mereka yang datang setiap hari.
Mato Kopi, dalam arti tertentu, dibentuk oleh komunitasnya sendiri. Hanafi pun meyakini, setidaknya ada satu hal yang tidak dimiliki banyak coffee shop modern, yakni umur panjang.
Selama hampir dua dekade, Mato Kopi menjadi saksi perjalanan banyak orang. Mahasiswa yang dulu mengerjakan tugas di sana, kini datang kembali, mungkin dengan pekerjaan baru, kehidupan baru, atau sekadar ingin mengingat masa lalu.
"Banyak yang dulu kuliah di Jogja, sering nongkrong di sini. Setelah lama, mereka balik lagi dan ingat suasana di Mato Kopi," tuturnya.
Di titik ini, Mato Kopi tidak lagi sekadar tempat. Ia berubah menjadi memori kolektif. Di saat banyak bisnis tumbuh dengan ambisi ekspansi, Hanafi memilih jalan berbeda.
Ia tidak tertarik membuka cabang sebanyak mungkin. Tidak juga mengejar citra modern. Fokusnya sederhana, dan justru karena itu terasa jarang.
"Saya tidak terlalu ambisi buka cabang banyak. Yang penting sekarang bagaimana Mato Kopi bisa bertahan dan umurnya panjang," ujarnya. (iza)