Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tak Lagi Beroperasi, Warkop Semesta Dinilai Merakyat dan Kini Dirindukan Para Pelanggannya  

Adib Lazwar Irkhami • Minggu, 19 April 2026 | 07:08 WIB
Kopi tanpa gula memiliki manfaat yang jauh lebih baik dari kopi dengan tambahan gula.
Kopi tanpa gula memiliki manfaat yang jauh lebih baik dari kopi dengan tambahan gula.

 

 

 

Bagi sebagian besar pencinta kopi dan pegiat komunitas di Jogjakarta, Warkop Semesta bukan sekadar tempat menyesap kafein. Kedai yang sempat berdiri kokoh di Jalan Abu Bakar Ali No 2, Kotabaru, Gondokusuman, Jogja ini masih menyisakan ruang rindu yang mendalam setelah tak lagi beroperasi.

Menjadi salah satu pelopor tren warkop modern di Kota Pelajar, Semesta dikenang sebagai titik temu lintas batas. Tak hanya strategis karena letaknya yang selemparan batu dari kawasan Malioboro, warkop ini memiliki magnet tersendiri pada masanya.

Baca Juga: Kasus Campak di DIY Naik Pasca Lebaran, Tingginya Pergerakan Masyarakat Jadi Salah Satu Faktor Penyebab

Bunaya, seorang pelanggan setia Warkop Semesta mengatakan, Semesta dulu merupakan warkop yang paling nyaman baginya, terutama untuk menyelesaikan pekerjaan. "Istimewa pokoknya. Lokasinya strategis, dekat kantor, dan aksesnya sangat mudah," tuturnya, Jumat (17/4).

Satu hal yang paling membekas dari warkop ini adalah atmosfernya yang inklusif. Meski banyak komunitas yang menjadikan tempat ini sebagai basecamp --mulai dari komunitas motor, desainer hingga para jurnalis-- tempat itu tidak ada sekat eksklusivitas di sana.

Semua pengunjung, dari latar belakang apa pun, bisa membaur menjadi satu kesatuan yang cair. "Konsep Semesta itu terasa nyata. Pemilik, karyawan, hingga pelanggan bisa membaur tanpa batas," bebernya.

Baca Juga: Sama-sama Berasa Asin, Mengenal Jenis Garam yang Bisa Digunakan untuk Memasak !

Selain itu, menurut Bunaya, secara fungsional Warkop Semesta memang dirancang untuk betah berlama-lama. Sebab berbagai fasilitas telah mewadahi di tempat itu.

Pria yang menjabat ketua harian Federasi Panjat Tebing Indonesia(FPTI) Kota Jogja ini juga menyatakan jika Semesta memiliki tempat variatif. Warkop ini dapat menyesuaikan kebutuhan pengunjung yang ingin fokus bekerja atau yang ingin riuh bercengkrama.

Dari segi menu, lanjut Bunaya, meski rasa kopi dinilai standar, harga yang dipatok sangat terjangkau dan merakyat. Pilihan makanannya pun juga jauh lebih beragam dibanding warung kopi konvensional lainnya pada saat itu.

Baca Juga: Gaet Generasi Muda, Polbangatan Kementan Dorong Siswa Sekolah Rakyat Magelang  Jadi Agripreneur 

Kini, meski bangunannya tak lagi ada, memori kolektif tentang Semesta tetap hidup di ingatan Bunaya. Harapannya, warkop legendaris itu bisa kembali membuka pintunya terus mengalir dari para pelanggan lama.

Ya, dari mereka yang merindukan suasana hangat di jantung Kota Jogja. "Saya sendiri sangat mengharapkan Semesta Kopi bisa buka kembali," ungkapnya. (ayu/laz)

 

Editor : Heru Pratomo
#warkop semesta #jalan abu bakar ali #kota pelajar #kotabaru #Kopi