Sebelum era coffee shop menjamur seperti sekarang, Kopi Blandongan bisa dikatakan sebagai pionir warung kopi (warkop) di Jogjakarta. Warung kopi di Jalan Sorowajan Baru, Banguntapan, Bantul itu kini sudah bertahan 26 tahun.
Pemilik Kopi Blandongan Nashrudin mengatakan, warung kopi miliknya didirikan pada 2.000 lalu. Kopi Blandongan terkenal dengan kopinya yang kental dan menggunakan cangkir kecil. Menu andalan yang masih bertahan sekarang seperti kopi cangkir (kopi hitam) dan kopasus (kopi susu).
Pria yang akrab disapa Cak Badrun ini menceritakan, Kopi Blandongan lahir dari kebingungannya menikmati kopi selama kuliah di Jogja. Di Kota Pelajar dia tidak pernah menemukan kopi seperti di Gresik, Jawa Timur, tanah kelahirannya yang kental dan rasanya kuat.
"Sehingga kemudian saya dirikan Kopi Blandongan dengan ciri khas kopi dari rumah. Ternyata responnya sangat bagus,” ujarnya saat ditemui, Jumat (17/4).
Dia menyampaikan, lebih dari dua dekade hadir di Jogjakarta Kopi Blandongan sudah melalui berbagai perubahan. Khususnya dari segi tempat. Di awal berdiri warung kopi ini hanya berupa tempat dengan ukuran 2,5 x 2,5 meter.
Seiring waktu, lahannya diperluas hingga pernah menjadi satu dengan lapangan futsal. Perombakan kembali dilakukan oleh Badrun dengan membuat Kopi Blandongan menjadi bangunan dua lantai dan dilengkapi gazebo.
Baca Juga: Keunikan Corak Batik Parang Khas Yogyakarta, Simbol Keberanian dan Keteguhan Jiwa
Meskipun banyak berubah dan sempat dikabarkan tutup karena renovasi, ia tetap menjaga esensi utama dari Kopi Blandongan. Yakni menu kopi kental gelas kecil yang menjadi ciri khas Kota Santri.
Dia pun menyatakan, Kopi Blandongan juga akan tetap menyediakan kopi bagi siapa pun yang membutuhkan. Tempat itu tidak akan memandang latar belakang pengunjung maupun gaya pakaian. Bahkan juga buka hampir 24 jam, mulai pukul 07.00 sampai 04.00.
"Tagline Kopi Blandongan itu selamatkan anak bangsa dari bahaya kekurangan ngopi. Jadi kopi di sini selalu tersedia,” ungkap Badrun. (inu/laz)
Editor : Heru Pratomo