Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Evolusi Photobox: Dari Tren Tahun 1800-an Kini Menjamu Budaya Visual di Jalanan Jogja

Anom Bagaskoro • Sabtu, 4 April 2026 | 07:08 WIB
Pengunjung mengabadikan momen menggunakan layanan photobox berlatar belakang Tugu Jogja, kemarin (3/4). Tren photobox dengan latar ikon kota tersebut kian diminati, terutama oleh kalangan muda, karena menawarkan pengalaman berfoto instan dengan suasana ruang publik yang ikonik sekaligus menjadi bagian dari gaya hidup urban
Pengunjung mengabadikan momen menggunakan layanan photobox berlatar belakang Tugu Jogja, kemarin (3/4). Tren photobox dengan latar ikon kota tersebut kian diminati, terutama oleh kalangan muda, karena menawarkan pengalaman berfoto instan dengan suasana ruang publik yang ikonik sekaligus menjadi bagian dari gaya hidup urban

 

 

Photobox di pinggir jalan kini mudah ditemui di kota-kota besar. Salah satunya di kawasan Malioboro dan Tugu Jogja. Hal ini seakan menjadi trend baru dan bagian dari kehidupan masyarakat, terlepas tua ataupun muda.

Pengamat Fotografi Novan Jemmi Andrea mengungkapkan, photobox sebenarnya bukanlah barang baru. Pasalnya, photobox telah ada sejak 1800-an. Dalam perkembangannya, photobox mulai dikenal banyak orang hingga teru berevolusi.

"Pada 2000-an ngetren di Indonesia dan kembali ngetren sebelum pandemi," ucap Novan, saat dihubungi Radar Jogja, Jumat (3/4).

Baca Juga: Kejar Kebutuhan Stok Darah, PMI Sleman Buat Kegiatan Pekan Donor Darah

Dosen Institut Seni indonesia (ISI) Jogjakarta itu melihat tren photobox sebagai wajah partisipasi masyarakat dalam budaya visual. Lantaran, hampir semua masyarakat dapat mengakses layanan foto dan langsung cetak. Hal ini akan memantik perkembangan budaya visual di Indonesia.

Photobox mampu menarik masyarakat dengan unsur kepraktisannya. Dibanding foto konvensional, photobox menghadirkan foto cetak satu kali jepret dengan satu kali cetak. Sisi inilah yang mampu memantik konsumen. "Bisa langsung mendapat hasil cetakan, itu bisa langsung dipajang dan jadi kenang-kenangan," ungkapnya.

Menariknya photobox juga berasal dari pengalaman pengguna. Dibandingkan dengan foto konvensional dengan gaya formal, photobox menyediakan keleluasaan bagi penggunanya. Pengguna dapat berpose hingga membangun konsep tersendiri.

Baca Juga: Jembatan Jonge Ambrol, Akses Vital Warga Lumpuh: Jalur Utama Semanu-Pantai Selatan, Mobilitas Dialihkan ke Jalur Alternatif

Khusus kaum muda, keleluasaan ini menjadi poin berlebih. Kaum muda dapat merasakan pengalaman unik dalam menggunakan photobox. Mereka dapat membuat kenangan pribadi ataupun bersama teman. Hal ini juga diperkuat dengan keberadaan fitur tambahan dari photobox.

Photobox dikenal memiliki fungsi tambahan, mulai dari filter hingga setingan lain untuk menunjang gaya pengguna. Modifikasi ini, membuat kreatifitas pengguna juga terpancing. Kesan inilah yang membuat pengalaman menggunakan photobox cukup unik. "Dari segi kualitas hasil photobox hanya untuk dokumentasi sederhana," ungkapnya.

Walau photobox cukup praktis, hasil photobox berbeda dengan foto konvensional. Pasalnya, hasil cetakan photobox berasal dari printer ataupun kertas yang jauh berbeda dengan foto konvensional.

Baca Juga: Pemerintah Efisiensi Anggaran, Abdul Mu'ti : Guru PPPK Tenang, Kemendikdasmen Sudah Punya Solusi

Foto konvensional yang memerlukan waktu lama setiap cetakan menghasilkan gambar yang jauh lebih awet puluhan tahun. Sedangkan, hasil photobox dapat rusak jika disimpan dalam waktu puluhan tahun.

Novan memberikan tips bagi pembaca untuk memilih photobox. Photobox di pinggir jalan kebanyakan memiliki kualitas cetakan yang hampir sama. Namun, setiap photobox memiliki fitur masing-masing. Calon pengguna sebaiknya memilih photobox dengan fitur lebih banyak atau paling sesuai dengan keinginan. (gas/pra)

Editor : Heru Pratomo
#novan jemmi andrea #photobox #ISI Jogjakarta #foto #tugu jogja