RADAR JOGJA - Tren gaya hidup sehat berbasis pola makan semakin berkembang dan melahirkan banyak istilah baru yang sering terdengar serupa.
Dua konsep yang belakangan cukup populer adalah clean food eating dan real food.
Meski sama-sama dianggap lebih sehat dibanding makanan instan atau kemasan, keduanya ternyata punya fokus dan pendekatan yang berbeda.
Banyak orang masih menyamakan keduanya, padahal perbedaannya cukup mendasar jika dilihat lebih dalam.
Clean food eating dan real food memang lahir dari keresahan yang sama, yakni tingginya konsumsi ultra-processed food seperti makanan instan, kemasan, dan cepat saji.
Namun, cara keduanya memaknai makanan sehat tidak sepenuhnya sama.
Melansir nibble.id, clean food eating lebih menekankan pada pola dan aturan makan, sementara real food lebih fokus pada jenis dan keaslian bahan makanan yang dikonsumsi.
Apa Itu Clean Food Eating?
Melansir Organic Authority, clean food eating adalah konsep pola makan yang berakar dari gerakan makanan alami pada tahun 1960-an di negara maju seperti Amerika Serikat.
Pola makan ini berfokus pada pengurangan lemak jenuh, peningkatan asupan protein, serta pemilihan makanan yang dianggap bersih dan padat nutrisi.
Konsep ini kemudian banyak diadopsi oleh penggemar kebugaran sebagai cara menjaga kesehatan sekaligus menurunkan berat badan.
Baca Juga: Ditabrak Seorang Penggemar, Lionel Messi Terjatuh Saat Invasi Lapangan di Puerto Rico
Dalam praktiknya, clean food eating menekankan pemilahan makanan berdasarkan kandungan gizinya.
Makanan yang dianggap bersih adalah yang tinggi protein tanpa lemak, mengandung karbohidrat secukupnya, lemak sehat, serta kaya serat, vitamin, dan mineral.
Makanan yang diproses berlebihan, mengandung gula rafinasi, tepung putih, dan natrium tinggi cenderung dihindari.
Clean food eating juga mengatur cara mengonsumsi makanan sehari-hari.
Pola ini menganjurkan makan dalam porsi kecil tapi lebih sering, menjaga keseimbangan nutrisi di setiap waktu makan, serta membatasi minuman tinggi kalori seperti soda, kopi krim manis, dan minuman berpemanis lainnya.
Prinsip Dasar Clean Food Eating
Dalam clean food eating, seseorang tetap boleh menikmati makanan manis, tetapi dengan memilih pemanis alami dan jumlah yang terbatas.
Gorengan, makanan cepat saji, serta daging olahan seperti sosis dan bacon sebaiknya dihindari karena dianggap mengandung lemak jenuh dan garam berlebih.
Produk susu pun dianjurkan dalam bentuk rendah lemak atau skim, karena lemak jenuh dinilai kurang baik bagi tubuh jika dikonsumsi berlebihan.
Selain itu, clean food eating juga sangat berhati-hati terhadap makanan berlabel kemasan.
Semakin panjang dan sulit diucapkan daftar bahan dalam suatu produk, semakin besar kemungkinan makanan tersebut dianggap tidak bersih.
Fokus utama pola ini adalah mengonsumsi makanan yang mendukung kesehatan tubuh dan komposisi fisik secara optimal.
Lalu, Apa yang Dimaksud dengan Real Food?
Berbeda dengan clean food eating, real food lebih merujuk pada jenis makanan, bukan pola makannya.
Real food adalah makanan asli yang berasal langsung dari alam, baik nabati maupun hewani, dan diolah seminimal mungkin.
Daging, ikan, telur, susu, sayur, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian termasuk dalam kategori ini.
Konsep real food muncul sebagai respons terhadap dominasi makanan ultra-proses yang semakin umum dikonsumsi.
Makanan instan, kalengan, atau kemasan dianggap telah kehilangan banyak nilai gizi alaminya karena melalui proses industri yang panjang.
Oleh karena itu, real food mendorong konsumsi makanan dengan bentuk, warna, rasa, dan tekstur yang masih mendekati aslinya.
Real Food Tidak Harus Mentah
Banyak orang mengira real food berarti makanan mentah atau tanpa dimasak sama sekali.
Padahal, real food tetap boleh diolah dengan cara dikukus, direbus, dipanggang, ditumis, bahkan digoreng, selama tidak mengubah bentuk dasar dan keaslian bahan utamanya.
Yang terpenting adalah minim proses dan minim tambahan bahan kimia atau pengawet.
Menariknya, banyak makanan rumahan dan tradisional Indonesia justru tergolong real food.
Bumbu dapur yang diulek atau diblender, santan segar dari kelapa, hingga hidangan seperti pepes, sayur tumis, gado-gado, gulai, dan tempe goreng tanpa tepung masih termasuk real food.
Hal ini menunjukkan bahwa real food tidak selalu identik dengan makanan Barat seperti salad atau smoothie bowl.
Baca Juga: Hadirkan TIC Kota Magelang, Atria Hotel Tak Sekadar Sediakan Kamar dan Restoran
Jadi, Apa Bedanya Clean Food Eating dan Real Food?
Perbedaan utama clean food eating dan real food terletak pada fokus konsepnya.
Real food berbicara tentang bahan makanan yang alami dan minim proses, sedangkan clean food eating adalah pola makan yang memilih makanan berdasarkan nilai gizi dan dampaknya bagi tubuh.
Keduanya memang saling berkaitan, tetapi tidak selalu sejalan sepenuhnya.
Tidak semua real food otomatis termasuk clean food.
Contohnya, santan segar masih tergolong real food, tetapi dalam clean food eating bisa dibatasi karena kandungan lemak jenuhnya.
Sebaliknya, beberapa makanan rendah lemak yang diperbolehkan dalam clean food eating belum tentu tergolong real food karena sudah melalui proses industri.
Baik clean food eating maupun real food sama-sama hadir sebagai alternatif yang lebih sehat di tengah maraknya makanan ultra-proses.
Clean food eating cocok bagi mereka yang ingin mengatur pola makan secara lebih terstruktur dan berorientasi pada komposisi nutrisi.
Sementara itu, real food lebih menekankan pada kesadaran memilih bahan makanan alami dan kembali ke cara makan yang lebih sederhana.
Dengan memahami perbedaannya, kita bisa lebih bijak memilih pola makan yang sesuai dengan kebutuhan dan gaya hidup masing-masing, tanpa terjebak pada tren semata. (Alya Ruhadatul Nabilah Aisy)
Editor : Meitika Candra Lantiva