RADAR JOGJA - Setiap kali Imlek tiba, satu buah yang hampir pasti selalu hadir di meja, ruang tamu, sampai bingkisan untuk kerabat adalah jeruk mandarin.
Warnanya yang oranye keemasan, rasanya manis segar, dan kulitnya yang mudah dikupas membuat buah ini bukan sekadar camilan, tapi bagian penting dari suasana perayaan.
Di banyak keluarga Tionghoa, rasanya belum lengkap menyambut Tahun Baru tanpa tumpukan jeruk cantik menghiasi rumah.
Tradisi ini ternyata sudah ada sejak lama.
Dalam sejarah Tiongkok bahkan sejak zaman Dinasti Qing, orang tua meletakkan buah-buahan seperti jeruk mandarin di dekat bantal anak-anak mereka saat malam pergantian tahun, bersama angpao.
Buah itu dipercaya bisa melindungi dan membawa keberuntungan.
Keesokan paginya, anak-anak akan memakan buah tersebut sebagai simbol awal tahun yang manis dan penuh harapan baik.
Kenapa harus jeruk mandarin? Salah satu alasannya ada pada bunyinya.
Dalam bahasa Mandarin, kata jeruk terdengar mirip dengan kata yang berarti “keberuntungan”.
Dalam dialek Kanton, penyebutannya juga mirip dengan kata “emas”.
Masyarakat Tionghoa memang punya kebiasaan memainkan makna kata saat imlek, karena dipercaya ucapan dan simbol yang baik bisa membawa hoki sepanjang tahun.
Warna jeruk yang keemasan dan bentuknya yang bulat pun dianggap melambangkan kemakmuran dan rezeki yang terus mengalir.
Tak hanya di Tiongkok, tradisi memberi jeruk saat Imlek juga menyebar ke berbagai negara Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, hingga Indonesia.
Biasanya jeruk diberikan dalam jumlah genap, karena angka genap dianggap membawa keberuntungan.
Memberikan sepasang jeruk menjadi tanda saling mendoakan rezeki dan kebahagiaan.
Jeruk yang masih memiliki daun dan tangkai bahkan dipercaya melambangkan umur panjang dan kesuburan.
Dalam budaya Kanton, ada pula ungkapan yang terdengar seperti “memberi emas” saat seseorang memberikan jeruk mandarin.
Jadi, saat saling bertukar jeruk, maknanya bukan sekadar memberi buah, tapi seperti saling mendoakan kekayaan dan keberhasilan.
Tradisi ini menjadi simbol rasa hormat dan harapan baik antara keluarga maupun sahabat.
Selain maknanya yang dalam, ragam jenis jeruk mandarin saat Imlek juga sangat beragam.
Salah satu yang populer belakangan ini adalah Red Beauty atau Hong Mei Ren.
Melansir lifestyleasia.com, varian ini merupakan hasil persilangan jeruk dan tangerine, aromanya wangi dengan rasa yang tidak terlalu manis.
Cocok dimakan setelah makan besar saat reuni keluarga karena bisa membantu menyegarkan mulut.
Kulitnya mudah dikupas, tapi dagingnya lembut, jadi harus hati-hati saat membukanya.
Lukan adalah jenis yang paling sering dijadikan pilihan untuk tradisi tukar jeruk.
Ukurannya lebih kecil dan kulitnya agak berkerut tipis sehingga mudah dikupas.
Rasanya sedikit asam tapi tetap manis, sangat segar untuk jadi penutup makan malam Imlek yang biasanya penuh hidangan berat.
Karena ukurannya pas dan praktis, Lukan sering jadi favorit untuk dibagikan.
Ada juga Ponkan, jeruk dengan kulit yang lebih mulus dan tampilan mengilap.
Daging buahnya tebal, manis, dan juicy.
Jenis ini hasil persilangan mandarin dan pomelo, jadi rasanya lebih kaya.
Banyak orang menyukai Ponkan karena teksturnya lembut dan rasanya bisa langsung buat mood naik.
Kalau dari Jepang dan Korea, ada Mikan yang ukurannya kecil, pas di genggaman tangan.
Mikan mudah dikupas dan biasanya hampir tanpa biji.
Rasanya manis dengan sedikit sentuhan asam yang menyegarkan.
Di beberapa daerah seperti Wakayama di Jepang dan Pulau Jeju di Korea Selatan, Mikan jadi kebanggaan lokal dan sering dinikmati sepanjang tahun, termasuk saat musim perayaan.
Swatow adalah jenis lain yang cukup unik karena kulitnya lebih tebal dan berkerut kasar.
Mengupasnya butuh sedikit usaha, tapi daya tahannya cukup lama sehingga sering dijadikan dekorasi rumah selama masa perayaan.
Rasanya cenderung lebih asam dan segar, cocok untuk yang tidak terlalu suka jeruk yang terlalu manis.
Terakhir, ada Dekopon, jeruk dengan ciri khas tonjolan di bagian atasnya.
Harganya lebih mahal dibanding jenis lain, tapi banyak orang rela membelinya karena rasanya manis seperti permen dengan aroma madu yang lembut.
Di Korea, jeruk ini dikenal dengan nama Hallabong dan sering dianggap sebagai buah premium untuk hadiah. (Alya Ruhadatul Nabilah Aisy)
Editor : Meitika Candra Lantiva