Namun, di balik tuntutan produktivitas tersebut, terdapat ancaman kesehatan yang kerap luput disadari, yakni Shift Work Sleep Disorder (SWSD) atau gangguan tidur akibat kerja shift.
Melansir dari laman Sleep Foundation, istilah ‘kerja shift’ merujuk pada jadwal kerja di luar jam 7 pagi dan 6 sore.
Perbedaan pada jadwal kerja yang bertentangan dengan jadwal normal pada umumnya berisiko mengalami masalah tidur yang disebut shift work sleep disorder (SWSD) yang dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan.
Berikut ulasannya:
SWSD merupakan gangguan ritme sirkadian, yaitu waktu tubuh yang mengatur siklus tidur dan bangun. Pada kondisi normal, tubuh akan merasa mengantuk di malam hari dan segar di pagi hari.
Namun, pekerja shift sering kali harus terjaga saat tubuh seharusnya beristirahat, sehingga ritme alami ini terganggu. Selain rasa kantuk, ritme sirkadian juga dapat mempengaruhi tingkat kewaspadaan, suhu tubuh, kadar hormon, dan rasa lapar.
Gejala Shift Work Sleep Disorder
Menurut American Academy of Sleep Medicine’s International Classification of Sleep Disorders (Third Edition), ada dua gejala utama shift work sleep disorder, yaitu:
- Insomnia
Kebutuhan tidur orang dewasa idealnya sekitar 7–8 jam setiap malam. Namun, pada penderita Shift Work Sleep Disorder (SWSD) yakni pola tidur yang tidak teratur akibat jam kerja yang tidak sesuai dengan ritme alami tubuh dapat memicu insomnia.
Insomnia yaitu gangguan tidur yang ditandai dengan kesulitan untuk memulai tidur, sering terbangun saat tidur, atau sulit kembali tertidur setelah terjaga.
Pekerja dengan sistem kerja shift rentan mengalami insomnia. Gejala yang dialami pun dapat berbeda-beda, tergantung jenis jadwal kerja.
Misalnya, pekerja dengan shift dini hari antara pukul 04.00 hingga 07.00 sering mengalami kesulitan tidur, sementara mereka yang bekerja pada malam hari cenderung tetap terjaga ketika tubuh seharusnya beristirahat. Akibatnya, rata-rata penderita SWSD dapat kehilangan sekitar 1–4 jam waktu tidur setiap malam.
- Rasa Kantuk yang Berlebihan
Pekerja shift yang mengalami SWSD umumnya merasakan kelelahan berlebih serta penurunan tingkat kewaspadaan, terutama saat bertugas pada malam hari atau dini hari. Kondisi tersebut membuat mereka kerap merasa membutuhkan waktu tidur singkat, seperti tidur siang, setidaknya satu kali selama menjalani shift.
Seseorang dapat dikategorikan mengalami shift work sleep disorder apabila keluhan tersebut muncul secara berulang selama minimal tiga bulan dan disertai pola tidur-bangun yang terganggu setidaknya selama dua minggu.
Selain dua gejala tersebut, gejala lain yang juga mungkin dialami adalah sulit konsentrasi, sakit kepala, kurang berenergi, dan suasana hati (mood) yang buruk.
Dampak Shift Work Sleep Disorder
Shift work sleep disorder bisa menyebabkan komplikasi jangka panjang yang serius, antara lain:
- Pola Makan yang Buruk
Beberapa penelitian mengaitkan SWSD dengan kebiasaan makan yang tidak sehat, seperti makan camilan secara berlebihan atau mengonsumsi junk food, yang pada akhirnya bisa menyebabkan obesitas.
- Ketergantungan Alkohol dan Obat-obatan
Banyak orang dengan gangguan tidur kerja shift mencoba mengonsumsi alkohol atau obat-obatan untuk meningkatkan kualitas tidur mereka. Penggunaan alkohol dan obat tidur dalam jangka panjang bisa menyebabkan sindrom ketergantungan terhadap obat dan alkohol.
- Menganggu Keselamatan Kerja
Mengalami kelelahan berlebih dan gangguan dalam berkonsentrasi dapat membuat orang dengan gangguan tidur kerja shift berisiko mengalami kecelakaan, baik di tempat kerja atau dalam perjalanan.
Perlu penanganan medis lebih lanjut, untuk memastikan diagnosis dan mendapatkan pengobatan.
Tips Mengatasi Shift Work Sleep Disorder
Tidak sedikit orang yang harus menjalani sistem kerja shift, meski demikian terdapat sejumlah penyesuaian gaya hidup yang dapat diterapkan untuk membantu mengurangi gejala Shift Work Sleep Disorder (SWSD):
- Usahakan untuk menjaga jadwal tidur yang teratur, termasuk di hari libur.
- Bila memungkinkan, ambil cuti selama dua hari setelah menjalani serangkaian shift malam.
- Tidur siang bila memungkinkan.
Batasi asupan kafein empat jam sebelum waktu tidur.
- Tetap jaga pola makan yang sehat dengan memperbanyak makan buah dan sayuran.
- Tidur siang sekitar 30-60 menit sebelum giliran kerja kamu.
Penulis : Lutfiyah Salsabil