Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kenapa Kita Bisa Bangun karena Alarm, Tapi Sering Tetap Tidur Saat Telepon Berdering?

Bahana. • Jumat, 30 Januari 2026 | 13:55 WIB

Ilutrasi Tidur - Sumber: Pinterest
Ilutrasi Tidur - Sumber: Pinterest
Bangun mendadak karena suara alarm mungkin sudah jadi rutinitas banyak orang. Tapi di saat yang sama, tak sedikit yang justru tidur nyenyak meski ponsel berdering karena ada panggilan masuk.

Fenomena ini terdengar sangat sepele, tapi ternyata berkaitan erat dengan cara otak manusia memproses suara saat tidur.

Secara biologis, tidur bukan kondisi “mati total”. Otak tetap bekerja, hanya saja ia memilah rangsangan mana yang layak ditanggapi dan mana yang bisa diabaikan.

Alarm dianggap penting oleh otak, alarm juga dirancang bukan sebagai suara biasa. Nadanya cenderung repetitif, tajam, dan tidak natural sehingga cukup untuk mengganggu fase tidur.

Lebih dari itu, alarm memiliki makna psikologis, dia diasosiasikan dengan kewajiban, rutinitas, dan konsekuensi jika tidak bangun tepat waktu.

Bahkan sebelum tidur, tubuh sudah tahu bahwa di jam tertentu akan ada alarm berbunyi. Akibatnya, sistem kewaspadaan di otak menjadi lebih sensitif terhadap suara tersebut, sehingga alarm lebih mudah membangunkan seseorang dibanding suara lain.

Berbeda dengan alarm, suara telepon tidak diasosiasikan dengan keharusan langsung. Dalam kondisi tidur, otak bisa melakukan penyaringan sensorik yang mengabaikan suara yang tidak dianggap penting atau berbahaya.

Jika panggilan itu tidak dinanti atau tidak terasa mendesak, otak memilih mempertahankan tidur. Itulah sebabnya seseorang bisa tidak sadar ada telepon masuk, meskipun deringnya terdengar jelas bagi orang lain di sekitarnya.

Tubuh manusia memiliki ritme sirkadian, jam biologis internal yang mengatur kapan kita mengantuk dan kapan kita terjaga. Jika pola tidur cukup konsisten, tubuh bisa “menebak” waktu bangun dengan akurat.

Dalam kondisi ini, alarm hanya berfungsi sebagai pemicu akhir, bukan penyebab utama bangun tidur. Sebaliknya, telepon yang datang di luar ritme tersebut tidak mendapat respons yang sama dari tubuh.

Tidur juga terdiri dari beberapa tahap, mulai dari tidur ringan hingga tidur dalam. Saat berada di fase tidur yang nyenyak, otak jauh lebih sulit dibangunkan oleh suara biasa.

Alarm akan memiliki peluang lebih besar menembus fase ini karena karakternya yang agresif dan berulang, sementara suara telepon sering kalah “kuat”.

Penulis: Kinesha Puspa Adilla

Editor : Bahana.
#alarm