Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Childfree Jadi Perbincangan di Kalangan Gen Z, Berikut Alasan Terungkap Dibaliknya!

Magang Radar Jogja • Kamis, 29 Januari 2026 | 08:15 WIB
Fenomena Childfree di kalangan Gen-Z di zaman saat ini.
Fenomena Childfree di kalangan Gen-Z di zaman saat ini.

RADAR JOGJA - Isu childfree atau keputusan untuk tidak memiliki anak kian ramai dibicarakan, terutama di kalangan Generasi Z.

Topik ini sering muncul di media sosial, obrolan podcast, hingga diskusi santai di lingkar pertemanan.

Bagi sebagian orang, childfree bukan lagi hal tabu, melainkan pilihan hidup yang sah dan layak dipertimbangkan.

Gen Z dikenal sebagai generasi yang lebih terbuka terhadap berbagai pandangan hidup.

Mereka tumbuh di tengah arus informasi yang cepat dan beragam, termasuk soal pernikahan, karier, hingga perencanaan keluarga.

Tak heran jika konsep childfree kemudian mendapat ruang untuk dibicarakan secara lebih terbuka.

Salah satu alasan utama yang kerap disampaikan adalah faktor ekonomi.

Biaya hidup yang semakin tinggi membuat banyak anak muda berpikir ulang soal kesiapan finansial untuk membesarkan anak.

Harga kebutuhan pokok, pendidikan, hingga tempat tinggal dinilai tidak sebanding dengan pendapatan yang mereka peroleh saat ini.

Bagi sebagian Gen Z, stabilitas ekonomi menjadi prioritas sebelum memikirkan hal lain.

Selain itu, alasan kesehatan mental juga sering mencuat.

Kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan mental membuat sebagian Gen Z merasa perlu jujur pada diri sendiri tentang batas kemampuan mereka.

Tanggung jawab sebagai orang tua dinilai bukan hal ringan, sehingga keputusan untuk childfree dianggap sebagai bentuk tanggung jawab, bukan egoisme.

Faktor lingkungan juga turut memengaruhi pandangan ini. Isu perubahan iklim, krisis lingkungan, dan kepadatan penduduk menjadi bahan pertimbangan tersendiri.

Beberapa Gen Z merasa khawatir akan masa depan bumi dan kualitas hidup generasi mendatang, sehingga memilih untuk tidak menambah populasi.

Tak kalah penting, perubahan cara pandang terhadap makna hidup dan kebahagiaan turut membentuk sikap ini.

Jika generasi sebelumnya sering mengaitkan kebahagiaan dengan menikah dan memiliki anak, Gen Z cenderung mendefinisikan kebahagiaan secara lebih personal.

Karier, hobi, kebebasan waktu, dan kesempatan mengeksplorasi diri dianggap sama berharganya.

Media sosial juga berperan besar dalam membentuk wacana childfree.

Berbagai pengalaman dibagikan secara terbuka, baik dari mereka yang memilih childfree maupun yang menolaknya.

Diskusi ini membuat Gen Z merasa tidak sendirian dan memiliki referensi lebih luas sebelum mengambil keputusan.

Meski begitu, pilihan childfree masih menuai pro dan kontra.

Di masyarakat yang memegang nilai keluarga kuat, keputusan ini kerap dipandang menyimpang.

Namun, bagi Gen Z, perbedaan pandangan dianggap sebagai hal wajar yang bisa didiskusikan tanpa harus saling menghakimi.

Pada akhirnya, childfree di kalangan Gen Z bukan sekadar tren, melainkan cerminan perubahan cara berpikir.

Generasi ini berusaha mengambil keputusan hidup secara sadar, berdasarkan kondisi, nilai, dan tujuan pribadi masing-masing.

Entah memilih memiliki anak atau tidak, Gen Z menegaskan satu hal bahwa setiap pilihan hidup orang lain layak dihormati. (Raka Adichandra)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#stabilitas ekonomi #alasan #childfree #Gen Z