Setelah mengalami gempa, berbagai reaksi emosional adalah hal yang wajar. Fase awal biasanya ditandai dengan rasa syok dan tidak percaya atas apa yang baru saja terjadi.
Flashback atau kilas balik kejadian gempa bisa muncul tiba-tiba, dipicu oleh hal-hal yang mengingatkan pada bencana seperti suara keras atau getaran.
Beberapa orang juga mudah terkejut, menangis tiba-tiba, atau merasa cemas tanpa alasan jelas.
Reaksi-reaksi ini normal dan merupakan cara tubuh memproses pengalaman traumatis. Pada kebanyakan orang, gejala ini akan mereda dalam beberapa hari.
Namun, jika berlangsung lebih dari sebulan dan mengganggu aktivitas sehari-hari, mungkin sudah berkembang menjadi gangguan stres pasca trauma atau PTSD.
PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) adalah gangguan mental yang bisa berkembang setelah mengalami peristiwa traumatis.
Gejalanya meliputi terus-menerus mengingat kejadian traumatis, menghindari hal-hal yang mengingatkan pada trauma, perubahan drastis dalam pikiran dan suasana hati, serta peningkatan kewaspadaan berlebihan.
Langkah Mengatasi Trauma
Langkah pertama adalah menerima bahwa perasaan takut, sedih, atau marah adalah normal. Jangan menyangkal atau menekan emosi karena akan memperburuk kondisi. Berbagi cerita dan perasaan dengan orang yang dipercaya membantu proses penyembuhan.
Ceritakan apa yang dialami dan bagaimana perasaan saat itu. Mendengarkan pengalaman orang lain yang juga selamat dari gempa bisa mengurangi rasa sendirian.
Mengembalikan rutinitas harian secara bertahap membantu membangun kembali rasa normalitas. Mulai dengan hal-hal sederhana seperti bangun dan tidur pada waktu yang sama, makan teratur, atau kembali bekerja dan sekolah.
Batasi paparan informasi, cukup ikuti perkembangan penting saja. Hindari melihat video atau foto yang menampilkan kehancuran secara berulang.
Trauma pasca gempa adalah pengalaman yang berat, tetapi bukan berarti tidak bisa diatasi. Proses pemulihan membutuhkan waktu dan setiap orang memiliki kecepatan yang berbeda.
Yang terpenting adalah mengambil langkah kecil setiap hari menuju pemulihan.
Ingatlah bahwa ada harapan dan kehidupan bisa kembali normal, meski butuh waktu dan kesabaran.
Penulis: Adzkia Fahdila Khairunisa
Editor : Bahana.