Dalam membaca suatu buku, ada dua kecepatan yang berbeda. Perbedaan tersebut menjadikan pembaca terbagi menjadi dua tipe, yaitu fast reader (cepat) dan slow reader (lambat).
Sebenarnya selain karena kemampuan membaca yang berbeda, fast reader bisa menjadi slow reader karena mereka ingin membaca dengan lebih pelan.
Slow reader biasanya memang lambat karena kemampuan membaca yang tidak sekuat fast reader.
Bagi slow reader, mereka biasanya iri pada fast reader karena dapat membaca buku yang sama dalam waktu yang lebih cepat.
Waktu yang lama ini membuat target bacaan slow reader dalam seminggu lebih sedikit daripada fast reader.
Meskipun begitu, menjadi slow reader juga memiliki manfaat karena dapat menikmati isi buku yang mereka baca.
Dalam membaca, tidak ada pertandingan siapa cepat menyelesaikan bacaan akan menjadi pemenang.
Jika suatu buku dibaca terlalu cepat, informasi di dalamnya hanya akan menjadi angin lalu karena tidak terasa istimewa ketika dibaca.
Fast reader memang bisa dianggap keren karena dapat membaca buku dalam jumlah yang lebih banyak dari slow reader.
Namun mereka terkadang tidak menikmati buku yang dibaca. Membaca cepat memang menguntungkan dalam keadaan tertentu seperti ketika membaca novel di perpustakaan yang memiliki batas waktu tertentu untuk peminjaman.
Dengan membaca cepat kamu bisa menyelesaikan buku tersebut dalam satu hari sebelum perpustakaan tersebut tutup.
Maka mana yang lebih baik, menjadi fast reader atau slow reader? Jawabannya tergantung dengan keadaan.
Kecepatan membaca buku yang paling disarankan adalah kecepatan normal, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Sekitar 250-500 kata per menit merupakan kecepatan yang disarankan.
Bahkan menjadi fast reader sangat disarankan untuk membaca buku non-fiksi karena dengan membaca cepat, seseorang mampu mendapatkan banyak informasi dalam waktu singkat.
Sedangkan membaca dengan kecepatan sedang direkomendasikan untuk buku fiksi supaya makna yang ingin disampaikan penulis dapat dicerna pembaca.
Editor : Bahana.