Di balik kemudahan tersebut, muncul fenomena psikologis yaitu FOMO atau Fear of Missing Out. FOMO merujuk pada perasaan cemas dan takut tertinggal dari berbagai hal yang sedang terjadi.
Perasaan ini tidak hanya muncul dalam konteks hiburan, tetapi juga dalam urusan karier, pertemanan, hingga gaya hidup.
Seseorang dapat merasa khawatir ketika tidak mengikuti tren tertentu atau tidak terlibat dalam aktivitas yang dilakukan orang lain.
Secara sederhana, FOMO adalah ketakutan bahwa orang lain sedang menikmati pengalaman yang lebih baik, lebih bermakna, atau lebih berharga.
Perasaan ini diperkuat oleh kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, terutama melalui media sosial. Tanpa disadari, hal ini memicu rasa tidak puas terhadap kehidupan sendiri.
Algoritma platform digital cenderung menampilkan konten yang menarik perhatian dan memicu emosi.
Semakin sering seseorang melihat pencapaian orang lain, semakin besar kemungkinan muncul perasaan tertinggal. Selain itu, budaya selalu terhubung membuat seseorang merasa harus terus mengikuti perkembangan terbaru.
Ketika tidak aktif atau tidak mengetahui suatu tren, muncul rasa khawatir dianggap ketinggalan atau tidak relevan.
Secara sosial, FOMO mendorong seseorang untuk memaksakan diri mengikuti berbagai aktivitas meski kondisi fisik dan mental tidak mendukung. Dalam jangka panjang, FOMO dapat berdampak pada kesehatan mental.
Perasaan cemas, gelisah, dan overthinking sering muncul ketika seseorang merasa hidupnya tidak sejalan dengan apa yang dilihat di media sosial. FOMO juga dapat menurunkan rasa percaya diri dan membuat seseorang sulit menghargai pencapaiannya sendiri.
Langkah awal yang dapat dilakukan untuk mengelola FOMO adalah meningkatkan kesadaran dalam menggunakan media sosial.
Membatasi dan menyaring konten yang dikonsumsi dapat membantu mengurangi tekanan psikologis.
Selain itu, penting untuk memahami bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Tidak semua hal harus diikuti dan tidak semua tren relevan dengan kebutuhan pribadi.
Fokus pada prioritas diri sendiri dan belajar merasa cukup menjadi kunci utama dalam mengurangi FOMO.
Pada akhirnya, FOMO merupakan respons wajar di tengah masyarakat yang serba terkoneksi. Namun, perasaan tersebut perlu dikelola agar tidak berubah menjadi beban.
Dengan menjalani hidup secara lebih sadar dan menghargai proses pribadi, seseorang dapat terlepas dari tekanan untuk selalu mengikuti apa yang dilakukan orang lain.
Penulis: Adzkia Fahdila Khairunisa
Editor : Bahana.