Misalnya, kesulitan mengekspresikan emosi negatif. Kamu selalu mengatakan “tidak apa-apa” padahal sebenarnya sedang kesal, menahan marah, dan kecewa.
Hal ini suatu saat bisa meledak atau malah menjadi penyakit. Takut dianggap dramatis membuat kamu lebih memilih memendam perasaan.
Selain itu, kehilangan identitas diri. Kamu bingung menjawab pertanyaan yang sebenarnya sederhana, seperti “kamu maunya apa?” atau “kamu suka apa?” karena terlalu terbiasa ikut pendapat mayoritas. Hal-hal yang kamu lakukan bahkan hobi yang dijalani pun bukan karena benar-benar suka, tapi karena ikut-ikutan teman.
Akar Masalah dan Dampaknya
Perilaku ini biasanya berakar dari pengalaman masa lalu atau pola asuh yang menanamkan bahwa gagasan penerimaan diperoleh melalui kepatuhan.
Akibatnya, terbentuk keyakinan bahwa mengatakan ‘tidak’ atau berbeda pendapat akan membuat orang lain kecewa dan meninggalkannya.
Dampaknya, kamu merasa sangat lelah dan energi yang terkuras habis setelah interaksi sosial karena terlalu banyak effort untuk menyenangkan orang.
Burnout sosial menjadi hal yang sering terjadi karena terlalu banyak janji dan komitmen yang harus dipenuhi. Bahkan, waktu untuk diri sendiri hampir tidak ada karena semua dialokasikan untuk orang lain.
Yang lebih berbahaya, harga diri menjadi bergantung pada pujian dan validasi eksternal. Kamu merasa tidak berharga kalau tidak berguna untuk orang lain.
Membangun Batasan yang Sehat
Langkah untuk keluar dari pola ini adalah memahami konsep batasan pribadi. Batasan ini menjadi garis yang menandai apa yang nyaman dan tidak nyaman bagi diri sendiri.
Contohnya, berani menolak permintan yang bertentangan dengan nilai pribadi dan meminta waktu untuk mempertimbangkan sebelum membuat komitmen.
Belajar mengungkapkan perasaan yang sebenarnya. Mulailah dengan hal kecil, mencoba memberikan pendapat jujur meskipun berbeda dari yang lain.
Perbedaan pendapat adalah hal yang normal dalam hubungan yang sehat. Komunikasi terbuka justru membuat hubungan lebih kuat dibanding diam-diam menahan kesal yang akhirnya menumpuk menjadi kebencian terpendam.
Menghadapi rasa bersalah dan overthinking. Ingatkan diri bahwa kamu tidak bertanggung jawab atas perasaan semua orang.
Setiap orang memiliki tanggung jawab atas respons emosional masing-masing.
Jika seseorang marah karena kamu berbeda pendapat atau menolak permintaannya, itu adalah pilihan mereka dalam merespons, bukan kesalahan kamu.
Luangkan waktu untuk mengenali kembali diri sendiri. Mencoba hal-hal baru sendirian tanpa pengaruh orang lain.
Tulis jurnal tentang perasaan, keinginan, dan mimpi kamu. Habiskan waktu berkualitas dengan diri sendiri. Melakukan aktivitas yang benar-benar kamu nikmati.
Proses menemukan identitas memang butuh waktu, tapi ini adalah investasi berharga untuk kesehatan mental jangka panjang.
Keseimbangan yang Sehat
Tujuan akhir bukanlah berhenti peduli pada orang lain atau menjadi orang yang egois.
Yang dibutuhkan adalah keseimbangan yang sehat antara memberi dan menerima, antara membantu orang lain dan menjaga diri sendiri.
Ketika diri mulai menghargai waktu, energi, dan kesehatan mental sendiri, hubungan yang terbangun akan lebih bermakna.
Penulis: Adzkia Fahdila Khairunisa
Editor : Bahana.