Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sering Mendengar Kata Ghosting? Fenomena Modern Yang Sering Dijumpai di Era Digital

Magang Radar Jogja • Minggu, 11 Januari 2026 | 13:10 WIB

Ilustrasi Keadaan Ghosting dalam Sebuah Hubungan (Pinterest)
Ilustrasi Keadaan Ghosting dalam Sebuah Hubungan (Pinterest)
Pernahkan kalian mengalami obrolan intens dengan seseorang entah teman, kenalan baru, bahkan pasangan.

Percakapan berjalan lancar, ada chemistry, dan semuanya terasa baik-baik saja.

Kemudian tiba-tiba, tanpa penjelasan apapun, orang tersebut menghilang.

Pesan tidak dibalas, telepon tidak diangkat, seolah-olah mereka tidak pernah ada.

Itulah ghosting. Fenomena modern yang semakin umum di era digital ini.

Meskipun terdengar seperti masalah kecil, dampak psikologisnya bisa sangat signifikan.

Bagi yang mengalami, ghosting bukan sekadar diabaikan, tetapi meninggalkan luka yang sulit sembuh karena tidak ada closure.

Apa itu Ghosting?

Ghosting adalah tindakan memutuskan komunikasi atau hubungan dengan seseorang secara tiba-tiba dan tanpa penjelasan.

Orang yang melakukan ghosting tidak memberikan alasan, tidak pamit, bahkan tidak memberi tanda-tanda bahwa mereka ingin mengakhiri hubungan. Mereka hanya menghilan, seperti hantu, sesuai dengan namanya.

Fenomena ini sering terjadi dalam konteks hubungan, tetapi juga bisa terjadi dalam pertemanan atau hubungan profesional. Yang membedakan ghosting dari break up biasa adalah tidak adanya komunikasi atau closure sama sekali.

Mengapa orang melakukan ghosting?

Memahami alasan di balik ghosting tidak membenarkan tindakan tersebut, tetapi bisa membantu korban untuk tidak terlalu menyalahkan diri sendiri. Ada beberapa alasan umum mengapa seseorang memilih untuk ghosting:

1. Takut konfrontasi. Banyak orang tidak nyaman dengan percakapan sulit. Mereka takut melukai perasaan orang lain atau takut diminta penjelasan yang tidak siap mereka berikan.

Ironisnya, dengan menghindari percakapan sulit, mereka justru menciptakan luka yang lebih dalam.

2. Tidak tahu cara mengakhiri dengan baik. Tidak semua orang diajarkan komunikasi yang sehat. Mereka mungkin tidak tahu harus berkata apa atau bagaimana menyampaikannya, sehingga memilih jalan yang paling mudah dengan menghilang.

3. Egois. Tidak memikirkan dampak yang akan terjadi ketika seseorang hanya fokus pada kenyamanan mereka sendiri. Mereka tidak mempedulikan bagaimana tindakan mereka mempengaruhi orang lain.

4. Ketidaktertarikan yang tidak berani disampaikan. Seseorang mungkin merasa tidak tertarik untuk melanjutkan, tetapi tidak tahu cara menyampaikannya. Mereka menganggap diam-diam menjauh lebih baik daripada jujur, meskipun sebenarnya kejujuran yang disampaikan dengan baik jauh lebih dihargai.

Mengapa ghosting itu menyakitkan?

Ghosting menciptakan jenis sakit yang sulit diproses. Ada beberapa alasan psikologis mengapa ghosting terasa sangat menyakitkan:

1. Tidak ada closure. Otak manusia membutuhkan penutupan untuk bisa move on. Ketika sesuatu berakhir tanpa penjelasan, pikiran kita terus mencari jawaban. Kita akan terus bertanya-tanya apa yang salah? Apa yang saya lakukan? Apakah ada sesuatu yang bisa saya perbaiki?

2. Membuat overthinking yang tidak berkesudahan. Tanpa informasi yang jelas, kita cenderung mengisi kekosongan dengan asumsi terburuk. Kita akan menganalisis ulang setiap percakapan, mencari tanda-tanda yang mungkin terlewat, dan menyalahkan diri sendiri atas apa yang mungkin tidak ada hubungannya dengan keputusan mereka.

3. Merusak kepercayaan. Setelah di ghost, seseorang mungkin menjadi lebih curiga, lebih waspada, dan lebih sulit untuk percaya dengan orang baru. Ada ketakutan bahwa pola yang sama akan terulang.

Jika anda di Ghosting: Cara Menghadapinya

1. Terima bahwa anda tidak akan dapat jawaban. Ini adalah langkah tersulit tetapi paling penting. Anda mungkin tidak akan pernah tahu alasan sebenarnya mengapa mereka menghilang. Terima bahwa bagian ini sudah berakhir, meskipun tanpa ending yang jelas.

2. Jangan salahkan diri sendiri. Ketidakmampuan mereka untuk berkomunikasi adalah masalah mereka, bukan kekurangan Anda.

Tidak ada yang Anda lakukan yang pantas untuk di ghosting. Bahkan jika memang ada ketidakcocokan atau masalah dalam hubungan, Anda tetap berhak mendapat komunikasi yang baik.

3. Fokus ke diri sendiri dan healing. Alihkan energi yang tadinya untuk memikirkan orang tersebut ke diri Anda sendiri. Lakukan hal-hal yang membuat Anda merasa baik misalnya olahraga, melakukan hobi, atau mencoba aktivitas baru.

4. Jangan balas dendam dengan ghosting. Meskipun tergoda untuk membalas dengan melakukan hal yang sama di masa depan, jangan. Hal ini harus berhenti di suatu titik. Jadilah orang yang lebih baik dari yang ghosting Anda.

Di akhir hari, bagaimana kita memperlakukan orang lain terutama saat mengakhiri hubungan akan menunjukkan karakter kita yang sebenarnya.

Mari jadi orang yang memberikan closure, bukan yang meninggalkan luka tanpa penjelasan.

Penulis: Adzkia Fahdila Khairunisa

Editor : Bahana.
#modern #ghosting