RADAR JOGJA - Inovasi dalam dunia olahraga terus berkembang seiring waktu. Salah satunya senam aerobik yang dilakukan di dalam air. Atau lebih dikenal dengan nama water aerobic atau aquarobic.
Instruktur Aerobik Ita Kumalasari menyebut, aquarobic sendiri dikenal sebagai olahraga low impact. Karena daya apung air mampu mengurangi tekanan pada sendi dan tulang.
Secara konsep, Vicky menjelaskan, gerakan aquarobic tidak jauh berbeda dengan aerobik konvensional. Namun, medium air membuat tantangannya berbeda. Hambatan air menuntut tenaga dan stamina yang lebih besar.
"Karena kan di air atau kolam, jadi juga butuh effort yang lebih besar, karena gerakannya juga terbatas," sebut perempuan yang telah menekuni profesi instruktur aerobik selama kurang lebih 12 tahun ini.
Selanjutnya, Vicky menyebutkan, manfaat tersebut sangat terasa bagi peserta berusia lanjut. Atau mereka yang memiliki masalah pada lutut, sendi, maupun sedang dalam masa pemulihan cedera.
"Water aerobic sendiri biasanya dilakukan di kedalaman kolam satu meter. Semakin dalam gerakannya makin susah dan terbatas," tuturnya.
Meski demikian, perkembangan olahraga ini masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya adalah keterbatasan fasilitas kolam renang yang bersifat private dan dapat digunakan secara khusus untuk aktivitas kelompok. "Selain itu biasanya juga dilakukan di kolam renang hotel, itu kan private sifatnya," ujarnya.
Dalam praktiknya, aerobik termasuk aquarobic, umumnya dilakukan secara berkelompok. Durasi latihan antara 30 menit hingga satu jam. Aktivitas ini mengombinasikan gerakan kaki, tangan, serta inti tubuh. Yang sekaligus melatih kekuatan otot, kebugaran jantung, hingga keseimbangan.
Editor : Sevtia Eka Novarita