Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Fenomena Oversharing di Media Sosial: Antara Jujur dan Kebablasan

Magang Radar Jogja • Kamis, 8 Januari 2026 | 09:10 WIB
Ilustrasi Oversharing di Media Sosial (ai generated)
Ilustrasi Oversharing di Media Sosial (ai generated)

Zaman sekarang, batasan antara privat dan publik semakin tipis. Media sosial menjadi tempat curhat yang paling mudah dijangkau. Tanpa disadari, kebiasaan ini dapat menjadi pisau bermata dua. Oversharing adalah kebiasaan terlalu banyak berbagi informasi personal di ruang publik.

Bukan sekadar cerita “hari ini makan apa”, “hari ini kemana aja”, atau “sekarang lagi di mana”. Tapi, lebih pada hal-hal yang seharusnya menjadi konsumsi pribadi.

Kenapa orang suka melakukannya?

Alasannya beragam. Ada yang butuh didengar karena merasa kesepian, ada yang mencari validasi melalui likes dan komentar, ada juga yang hanya sekadar terbiasa dengan budaya konten yang di mana makin personal, makin relate, makin viral.

Dampak Oversharing

Dalam jangka pendek, oversharing mungkin membuat lega. Tapi dalam jangka panjang bisa menjadi penyesalan. Contohnya ketika curhat dalam kondisi emosi – ketik, post, selesai. Besoknya sadar, tapi sudah terlambat, screenshot tanpa izin sudah beredar.

Yang sering terlupa bahwa postingan yang tidak hanya soal diri sendiri. Terkadang, kita menceritakan pertengkaran dengan pasangan, curhat tentang orang tua, atau keluh kesah tentang teman.

Secara tidak langsung, kita mengekspos orang lain yang bahkan tidak minta untuk menjadi bagian dari narasi publik kita.

Hal ini dapat merusak kepercayaan, membuat orang terdekat merasa tidak nyaman, bahkan memicu konflik baru.

Secara mental, oversharing juga dapat memicu ketergantungan pada respon orang. Ketika postingan tidak mendapatkan simpati seperti yang diharapkan, kita bisa semakin down.

Belum lagi risiko data pribadi yang disalahgunakan atau menjadi bahan pembicaraan banyak orang.

Belajar Bijak dalam Berbagi

Berbagi secara jujur itu penting, tapi tidak semua kejujuran perlu dikonsumsi publik. Kuncinya ada di filter dan timing.

Sebelum posting, tanyakan ke diri sendiri: Kenapa aku mau share ini? Apa tujuannya? Siapa saja yang akan membacanya? Apa aku akan menyesal?

Jika memang butuh didengar, pertimbangkan untuk cerita ke orang yang tepat, seperti sahabat atau keluarga.

Tidak semua momen bisa dijadikan konten. Tidak semua perasaan harus mendapat validasi dari followers.

Media sosial itu bukan buku harian pribadi. Sekali kita posting, informasi itu lepas dari kendali kita.

Orang bisa screenshot, salah paham, atau bahkan memanfaatkannya untuk menyerang kita di kemudian hari. Jujur itu baik, tapi kebijaksanaan dalam memilih apa yang dibagikan itu jauh lebih baik.

Penulis: Adzkia Fahdila Khairunisa

Editor : Bahana.
#media sosial #oversharing