Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Resolusi Tahun Baru bagi Mahasiswa Akhir: Antara Harapan Lulus dan Tekanan Mental

Magang Radar Jogja • Kamis, 1 Januari 2026 | 14:30 WIB

Photo
Photo
Resolusi Tahun Baru kerap menjadi momen refleksi, termasuk bagi mahasiswa tingkat akhir yang sedang berada di fase penuh tekanan.

Target lulus tepat waktu, menyelesaikan skripsi, hingga mempersiapkan masa depan setelah kampus sering kali menjadi daftar utama resolusi yang dibuat setiap awal tahun.

Namun, tidak sedikit mahasiswa justru merasa terbebani. Survei Forbes Health/OnePoll pada Oktober 2023 mencatat bahwa 61,7 persen responden merasa tertekan saat harus membuat resolusi Tahun Baru, sementara 66,5 persen berencana menetapkan tiga resolusi atau lebih.

Tekanan ini relevan dirasakan mahasiswa akhir yang kerap menghadapi tuntutan akademik sekaligus ekspektasi sosial.

Optimisme memang muncul setiap pergantian tahun, tetapi realitas menunjukkan lebih dari 90 persen resolusi ditinggalkan dalam beberapa bulan pertama.

Kondisi ini membuat banyak mahasiswa kembali merasa gagal, padahal persoalannya sering kali bukan pada kurangnya usaha, melainkan cara menetapkan target.

Psikolog klinis berlisensi Terri Bly dari Ellie Mental Health, Minnesota, menyebut Tahun Baru sebagai momen refleksi yang mendorong seseorang meninjau ulang hidupnya. Resolusi menjadi simbol komitmen untuk berubah dan memperbaiki keadaan.

Pandangan tersebut sejalan dengan Jennifer Kowalski, konselor profesional berlisensi dari Thriveworks, Connecticut. Ia menyebut pergantian tahun memberi makna psikologis tentang awal yang baru.

“Tahun baru mewakili awal yang baru, dan manusia membutuhkan penanda untuk menyegarkan diri. Ketika sesuatu berakhir, itu berarti ada awal yang baru,” ujar Kowalski, dikutip dari Verywell Mind.

Meski begitu, kegagalan resolusi kerap terjadi karena target yang dibuat terlalu besar dan ekstrem. Hal ini juga sering dialami mahasiswa akhir yang ingin “sekalian beres” dalam satu waktu: skripsi kelar, IP naik, karier siap, dan hidup lebih tertata.

“Kesalahan kita adalah menganggap resolusi harus berupa perubahan besar dan dramatis karena terdengar menarik. Padahal, sebagai manusia kita tidak dirancang untuk perubahan besar secara tiba-tiba,” jelas Terri Bly.

Kowalski menambahkan bahwa resolusi besar sering tidak disertai langkah-langkah kecil yang realistis. Padahal, di balik satu target besar seperti lulus, terdapat banyak tahapan kecil yang harus dilalui secara konsisten.

“Orang sering menetapkan resolusi yang besar dan mungkin bisa dicapai, tetapi sebenarnya ada puluhan langkah kecil yang harus dilewati lebih dulu. Karena tidak dibuat bertahap, resolusi itu akhirnya terasa mustahil,” bebernya.

Masalah lain yang kerap muncul adalah resolusi dibuat karena dorongan “seharusnya”, bukan keinginan pribadi. Mahasiswa sering menetapkan target karena tekanan lingkungan, keluarga, atau perbandingan dengan teman sebaya.

“Jika kita membenci aktivitasnya dan tidak tahu apa imbalannya bagi diri sendiri, kita tidak akan menjalaninya,” kata Bly.

Selain itu, kesiapan mental menjadi faktor penting. Menurut Bly, mereka yang berhasil menjalankan resolusi biasanya sudah berada pada tahap siap bertindak, bukan sekadar ikut arus semangat Tahun Baru.

Untuk mahasiswa akhir, perubahan yang bertahan justru lebih mungkin terjadi lewat langkah kecil dan konsisten.

Jennifer Kowalski menekankan bahwa kebiasaan tidak terbentuk dari perubahan ekstrem dalam waktu singkat.

“Jika Anda melakukannya habis-habisan hanya selama Januari, itu tidak membentuk kebiasaan,” ujarnya.

“Yang penting adalah membiasakan diri melakukan hal baru secara berkelanjutan.”

Sebagai alternatif, Terri Bly menyarankan agar resolusi dipecah menjadi target kecil sepanjang tahun.

Bagi mahasiswa tingkat akhir, ini bisa berarti fokus pada progres mingguan skripsi, menjaga ritme kerja yang realistis, serta memberi ruang untuk istirahat dan pemulihan mental.

Dengan pendekatan tersebut, resolusi tidak lagi menjadi sumber tekanan, melainkan alat bantu untuk bertahan dan bertumbuh di fase akhir perkuliahan yang penuh tantangan.
Untuk kalian mahasiswa akhir, apa resolusimu untuk 2026?

Muhtar Dinata

Editor : Bahana.
#resolusi