Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Makna di Balik Ungkapan “Jangan Terlalu Diiniin, Apa Sih Namanya? Adalah Pokoknya”, Fenomena Bahasa yang Ramai di Medsos

Magang Radar Jogja • Rabu, 31 Desember 2025 | 18:16 WIB

Photo
Photo
Kalimat "jangan diini-iniin...apa namanya? adalah pokoknya" sering muncul di media sosial.

Meskipun terdengar samar dan kurang lengkap, frasa ini sudah cukup dikenal dalam percakapan sehari-hari orang Indonesia.

Kalimat ini muncul di berbagai situasi, mulai dari obrolan di media sosial, percakapan santai saat nongkrong, hingga percakapan serius yang seharusnya jelas.

Lalu, mengapa frasa ini bisa menjadi populer dan bahkan mulai viral di berbagai platform media sosial? Dosen Sastra Indonesia di Universitas Sebelas Maret (UNS), Miftah Nugroho, memberikan penjelasan yang menarik mengenai fenomena tersebut.

Miftah menyebutkan, ekspresi verbal seperti "jangan diini-iniin, apa namanya? adalah pokoknya" adalah bentuk bahasa yang diucapkan seseorang ketika sedang lupa (kadang hanya sejenak) untuk menyebut sesuatu yang ingin dijelaskan.

"Oleh karena itu, untuk mengganti sesuatu yang lupa, lantas penutur mencari kata yang mudah untuk sekadar mengganti yang lupa tadi. Kata yang mudah untuk digunakan adalah kata 'ini', 'itu', atau 'anu'," ujar Miftah.

Miftah menjelaskan, frasa 'jangan diini-iniin' sebenarnya adalah perintah agar mitra tidak melakukan sesuatu. Namun karena lupa, orang menggunakan kata 'ini' saja.

Sementara itu, 'apa namanya?' juga adalah cara berbicara yang menunjukkan penutur lupa kata apa yang ingin disampaikan. Begitu pula dengan frasa 'adalah pokoknya'.

"Dalam konteks ini 'pokoknya' berdasarkan makna yang diambil dari KBBI VI daring dapat dipahami yang terutama atau yang sangat penting," lanjutnya.

Saat mendengar ucapan tersebut, terkadang orang yang berbicara menunjukkan gerak tangan seperti mengerti.

Padahal maknanya belum sepenuhnya jelas. Menurut Miftah, hal ini terjadi karena kedua pihak sudah memiliki pemahaman atau pengetahuan yang sama sebelum berkomunikasi.

"Oleh karena itu, saat penutur menggunakan ekspresi tersebut, mitra tutur tidak butuh waktu lama dapat memahami karena sudah satu frekuensi. Bahkan kadang yang terjadi malah mitra tutur yang ingat apa kata yang akan digunakan oleh penutur," ucap Miftah.

Dalam menjawab, mitra bicara biasanya mengangguk-anggukkan kepala atau menjawab dengan "oh iya" agar menunjukkan rasa hormat terhadap orang yang sedang berbicara.

"Di dalam kajian pragmatik (kajian yang menelaah penggunaan bahasa), saat penutur berujar, mitra tutur dianjurkan untuk melakukan tanggapan," paparnya.

"Tujuannya sebagai bentuk kesantunan. Manakala tidak ada tanggapan atau senyap, tentu penutur merasa tidak nyaman dengan respons tersebut," sambung Miftah.

Miftah menambahkan, sebenarnya kata 'ini', 'itu', atau 'anu' sudah lama digunakan oleh orang-orang yang berbahasa Indonesia.

"Sejauh yang saya amati, penggunaan kata pokoknya cenderung ke arah kurang ada keinginan untuk menjelaskan. Hanya pernyataan ini perlu divalidasi dengan penelitian yang melibatkan banyak responden," imbuhnya.

Kebiasaan yang tidak jelas artinya terkait dengan cara orang berbicara. Miftah mengatakan, budaya juga berpengaruh besar terhadap komunikasi lisan.

Dia bilang, ada ahli bahasa yang mengatakan bahwa bahasa memengaruhi budaya, meskipun tidak semua orang sepenuhnya menyetujui pendapat itu.

"Sebagian besar pakar bahasa cenderung memilih pendapat bahasa hubungan budaya dan bahasa adalah timbal balik. Dengan kata lain, budaya sebenarnya memengaruhi bagaimana bahasa digunakan," ucapnya.

"Dalam budaya kita yang menitikberatkan pada pemeliharaan hubungan sosial yang baik dan harmonis, penggunaan istilah-istilah samar tampaknya lebih dipilih dan digunakan alih-alih bentuk yang secara lugas dan tegas dapat dipahami," sambungnya.

Dengan kata lain, agar hubungan tetap harmonis, banyak orang lebih memilih tidak menyampaikan sesuatu secara langsung. Menurut Miftah, penggunaan kata seperti 'ini', 'itu', atau 'anu' dalam ucapan bisa dilihat dari dua sudut pandang.

"Fenomena ini sebenarnya dapat dipahami sebagai kebingungan massal yang dinormalisasi," ucapnya.

Miftah menjelaskan bahwa dari segi preskriptif, penggunaan istilah-istilah tersebut dapat dikatakan sebagai bentuk yang tidak tepat. Namun dari segi deskriptif, fenomena tersebut sebenarnya bisa diartikan sebagai bentuk kekayaan masyarakat dalam menggunakan bahasa Indonesia dengan baik.

Penulis: Ocha

Editor : Bahana.
#Jangan Terlalu Diiniin #Medsos