Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ketika Meja Makan Dikuasai Layar: Perubahan Makna Makan di Era Digital

Bahana. • Selasa, 16 Desember 2025 | 22:52 WIB

Photo
Photo
Teknologi digital kini tidak hanya sebagai alat bantu, tetapi sudah terintegrasi hampir di setiap aspek kehidupan manusia.

Fenomena Internet of Things membuat kegiatan manusia bergantung pada jaringan, data, dan perangkat digital setiap saat. Tidak ada lagi waktu yang benar-benar lepas dari pengaruh teknologi.

Akses internet yang dulu terbatas sekarang bisa dicapai kapan saja lewat smartphone yang semakin murah, sehingga tidak lagi terbatas oleh kelas sosial atau kondisi ekonomi.

Hal ini menciptakan realitas sosial baru di mana kehidupan manusia selalu beriringan dengan perkembangan teknologi, yang sekaligus dinikmati dan sulit untuk ditinggalkan.

Ketergantungan pada jaringan digital membuat masyarakat semakin terbiasa hidup dalam aliran informasi yang tak berhenti.

Di situasi ini, kecepatan menjadi hal yang paling penting. Informasi harus diperoleh lebih cepat, lebih dulu, dan terus diperbarui, meskipun tidak selalu relevan atau dalam.

Perlahan, manusia berubah menjadi konsumen data yang terus berpindah dari satu informasi ke informasi lain, tanpa kesempatan cukup untuk memikirkan dan memahami secara mendalam.

Kebutuhan untuk selalu terhubung membuat masyarakat merasa cemas jika terlewatkan sesuatu, yang disebut sebagai FOMO.

Budaya ini tidak hanya terjadi di tempat kerja atau hiburan, tetapi juga mulai memengaruhi kegiatan sehari-hari seperti makan dan minum.

Dulu, sebelum internet berkembang seperti sekarang, makan adalah aktivitas yang lebih sakral.

Makan dilakukan dengan fokus, dan ketika dilakukan bersama, menjadi momen untuk berinteraksi, berbagi cerita, memperkuat hubungan, serta membangun ikatan sosial. Tidak adanya teknologi dulu justru memberikan ruang interaksi nyata yang bebas dari gangguan layar.

Perubahan mulai terasa ketika handphone dengan akses internet bebas hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Kini, melihat orang makan sambil menatap layar sudah menjadi hal biasa, baik saat makan sendirian maupun bersama.

Tradisi makan bersama keluarga di meja makan perlahan mengalami pergeseran. Percakapan antar anggota keluarga semakin jarang, digantikan dengan aktivitas masing-masing di layar handphone. 

Meja makan tetap ada, tetapi kehilangan fungsinya sebagai tempat interaksi sosial yang hidup.

Kebiasaan makan sambil menonton handphone tidak muncul secara alami saja, tetapi juga dipengaruhi oleh logika kapitalisme digital.

Dorongan untuk selalu terhubung, tidak ketinggalan, dan terus mengonsumsi konten membentuk kebiasaan baru yang terasa "harus ada". 

Aktivitas makan, yang sebelumnya merupakan ritual sosial, kini bergeser menjadi aktivitas tambahan yang menyertai konsumsi informasi digital.

Dalam masyarakat layar, hampir tidak ada ruang yang benar-benar bebas dari logika distraksi.

Dampak sosial dari kebiasaan ini terasa jelas di dalam keluarga. Meja makan yang dulu menjadi tempat berkomunikasi kini sering kali berubah menjadi ruang yang sepi, dihiasi oleh cahaya layar ponsel.

Interaksi langsung antar orang semakin berkurang, begitu pula pertukaran perasaan dan nilai-nilai. 

Saat interaksi langsung melemah, ikatan sosial dalam keluarga pun bisa terganggu. Hubungan keluarga tetap berjalan, tetapi kualitas kebersamaan semakin tipis.

Meski begitu, kebiasaan makan sambil menonton ponsel tidak selalu buruk. Bagi masyarakat perkotaan yang menghadapi tekanan waktu tinggi, kebiasaan ini bisa dianggap sebagai cara beradaptasi. 

Tindakan ini memberi hiburan singkat, mengurangi stres, dan memberikan rasa terhubung secara simbolik, terutama bagi mereka yang makan sendirian.

Namun, di sisi lain, kebiasaan ini juga bisa membawa risiko terasing, baik dari tubuh sendiri maupun dari orang-orang terdekat, ketika pengalaman makan sepenuhnya tergantikan oleh layar ponsel.

Dengan menetapkan batas dan jarak yang sehat, makan bisa kembali dianggap bukan hanya sebagai kebutuhan biologis, tetapi juga sebagai kegiatan sosial dan budaya yang memiliki arti dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis: Ocha

Editor : Bahana.
#meja makan #Era Digital