JOGJA - Fenomena baru muncul di kawasan Jeron Beteng Jogja. Jika dulu aktivitas jalan kaki mengitari benteng keraton atau Mubeng Beteng identik dengan ritual 1 Suro, kini kawasan itu menjadi ruang hidup baru bagi warga.
Pada banyak kesempatan, makin banyak warga yang melakukan jalan santai, lari, hingga mengikuti walking tour yang menawarkan pengalaman budaya dan edukasi di kawasan itu.
Dosen Departemen Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Grendi Hendrastomo menilai, tren baru ini lahir dari dua arus besar. Yakni meningkatnya minat masyarakat terhadap gaya hidup sehat, dan revitalisasi kawasan Jeron Beteng yang membuat ruang tersebut semakin menarik secara visual dan fungsional.
"Pertama, tren soal kesehatan dan kebugaran sedang hype sekali. Jadi apa pun yang terkait itu mudah jadi tren baru. Lalu, revitalisasi Jeron Beteng membuat kawasan itu visualnya lebih bagus dan menarik bagi anak muda," ujarnya, Jumat (5/12).
Menurutnya, perbaikan kawasan itu membuat masyarakat merasa lebih nyaman untuk berkegiatan, termasuk lari, jalan santai, atau bergabung dalam walking tour. Hal ini juga membuka peluang tumbuhnya komunitas baru.
"Ini bisa jadi komunitasnya sudah ada dulu, saling mengenal, atau justru orang-orang yang tertantang menjajal sesuatu yang baru," ungkapnya.
Grendi menilai, fenomena ini menunjukkan adanya perubahan cara masyarakat memaknai ruang budaya. Jika dulu Jeron Beteng sepenuhnya menjadi kawasan internal Keraton Jogja dan lingkungan permukiman, kini ia bertransformasi menjadi ruang publik yang hidup dan dinamis.
"Dulu semua tempat di area dalam beteng itu bisa diakses. Masa kecil saya main sepeda di bentengnya. Sekarang konteks cagar budaya dan reservasi budaya jauh lebih diperhatikan dibanding dulu," ungkap Grendi.
Perubahan itu sejalan dengan pola kota-kota modern yang berlomba menghadirkan landmark dan ruang publik untuk menarik wisatawan. Tren ini, menurutnya, wajar terjadi namun penting untuk dikaji secara sosiologis agar tidak mengaburkan konteks budaya dan sejarahnya.
Ia juga melihat maraknya aktivitas ini tidak hanya lahir dari kebutuhan akan ruang sehat dan edukatif. Tetapi juga dipicu oleh budaya digital yang menuntut keterlibatan dan pembuktian diri.
"Di era digital sekarang, kebenaran bisa diciptakan oleh khalayak dan orang cenderung ingin ikut terlibat, show off, atau mencitrakan diri di era kini," ujarnya.
Bagi warga lokal, aktivitas ini justru tidak selalu menarik. Menurut Grendi, sasaran utama aktivitas semacam ini lebih banyak datang dari wisatawan atau orang luar yang ingin merasakan pengalaman budaya Jogja secara cepat dan visual. "Target utamanya justru wisatawan atau turis," tambahnya.
Selanjutnya, meski sebagian tren bersifat musiman atau dipicu fear of missing out (FOMO), Grendi menilai kreativitas warga dalam memanfaatkan ruang kota adalah hal yang positif. Kota, katanya, memang terus bergerak dan tidak bisa statis.
"Kreativitas menciptakan sesuatu yang baru itu wajar. Kadang tren seperti ini hanya hype sesaat, tapi tetap menjadi bagian dari dinamika sosial," tuturnya.
Fenomena Mubeng Beteng versi modern ini menunjukkan bahwa ruang budaya tidak hanya lestari, tetapi juga fleksibel dan mampu beradaptasi dengan kebutuhan generasi baru, sekaligus tetap menjadi ruang edukasi dan interaksi sosial yang penting di Jogja. (iza/laz)