RADAR JOGJA - Indonesia dan Jepang memiliki kesamaan berada di zona cincin api pasifik.
Yakni sebuah jalur seismik aktif yang membuat kedua negara ini rentan terjadi gempa bumi dan tsunami.
Sebagai warga negara yang sama-sama berada di zona ini, perlu rasanya belajar dari Jepang bagaimana menghadapi gempa bumi dan tsunami.
Dari data yang dihimpun, sistem peringatan dini gempa di Jepang telah terbukti mampu memberikan notifikasi kepada masyarakat dalam hitungan detik sebelum gempa mencapai wilayah tertentu.
Hal ini membantu masyarakat untuk segera mengambil langkah antisipasi dan evakuasi untuk segera menyelamatkan diri.
Pada 1 Oktober 2007, JMA (Japan Meteorological Agency) meluncurkan sistem layanan peringatan dini gempa bumi yang disebarkan melalui sejumlah media seperti TV dan radio.
Sistem ini bernama Kinkyu Jishin Sokuho atau EEW (Early Earthquake System), sebuah sistem berbasis satelit yang digunakan Jepang untuk mengirimkan peringatan secara langsung dan cepat kepada masyarakat mengenai informasi bencana gempa bumi dan tsunami.
Sistem ini menggunakan berbagai jenis sensor yang terdiri dari accelerometer, strain meter, dan GPS yang ditempatkan di berbagai lokasi strategis di Jepang.
Cara kerja sistem Kinkyu Jishin Sokuho atau Earthquake Early Warning (EEW) yakni dengan mendeteksi gelombang “P” awal, yang bersifat tidak merusak dari gempa bumi.
Gelombang “P” bisa terdeteksi oleh stasiun seismik yang terletak paling dekat dengan pusat gempa, kemudian menghitung episentrumnya dan mengirimkan peringatan kepada masyarakat Jepang sebelum gelombang gempa yang lebih merusak (S) tiba.
Gelombang “S” atau gelombang sekunder, cenderung lebih merusak dari pada gelombang primer sebab memiliki amplitudo yang lebih besar dan menyebabkan getaran pada benda yang lebih kuat.
Informasi ancaman fenomena alam tersebut kemudian disebarluaskan melalui teknologi bernama Cell Broadcast System, yang memungkinkan untuk mengirimkan pesan peringatan secara serentak ke seluruh handphone yang berada di area terdampak.
Biasanya notifikasi itu akan datang 10-15 detik sebelum gelombang gempa bumi yang lebih merusak tiba.
Sehingga diharapkan dengan waktu yang singkat itu masyarakat bisa bergegas untuk menyelamatkan diri.
Secara keseluruhan, sistem ini bukan memprediksi terjadinya gempa, tetapi memberikan informasi secepat mungkin sebelum gelombang gempa yang merusak tiba.
Sehingga dibutuhkan infrastruktur yang memadai agar informasi pergerakan gelombang seismik dapat diterima, diproses, dan didistribusikan secara cepat.
Lebih lanjut, Jepang juga membuat Yurekuru Call, aplikasi mobile yang dirancang untuk memberikan peringatan dini gempa bumi serta informasi terkait lainnya.
Salah satu fungsi utama dari aplikasi ini adalah sistem Peringatan Dini Gempa Bumi.
Aplikasi tersebut memanfaatkan data dari Badan Meteorologi Jepang (Japan Meteorological Agency) untuk memberitahu penggunanya mengenai peristiwa gempa yang akan terjadi.
Aplikasi ini kemudian mengirimkan peringatan melalui push notification, memungkinkan pengguna menerima pembaruan secara real-time tentang gempa di sekitar mereka.
Yurekuru Call telah meraih popularitas di Jepang, sekitar 5 juta pengguna yang merasakan manfaat dari layanan peringatan dini gempa bumi yang disediakannya.
Aplikasi ini memberikan rasa aman dengan memberitahukan pengguna tentang gempa melalui fitur hitung mundur, sehingga mereka dapat bersiap menghadapi kemungkinan terjadinya guncangan.
Aplikasi ini terhitung wajib bagi warga Jepang maupun turis yang sedang berada di Jepang.
Handpnone yang menggunakan SIM Jepang akan menerima notifikasi jika gempa bumi akan tiba.
Namun tanpa kartu SIM pun akan tetap menerima notifikasi gempa bumi selama terhubung dengan Wi-Fi.
Pemerintah Jepang juga mengembangkan beberapa sistem peringatan dini mereka (Early Warning System) terhadap bencana.
Mereka mempunyai MOWLAS (Monitoring of Waves on Land and Seafloor) untuk membantu masyarakat mengetahui kondisi sebenarnya dari bahaya secara real time.
Data yang ada pada MOWLAS terkumpul di pusat data, dan dipublikasikan serta disebarluaskan melalui situs website mereka.
Sehingga semua orang dapat mengakses, kapanpun dan dimanapun. (Muhammad Aryo Witjaksono)