Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Yuk Simak! Begini 4 Cara Menghadapi Teman Toxic Tanpa Drama

Magang Radar Jogja • Senin, 8 Desember 2025 | 23:30 WIB

ilustrasi pertemanan AI
ilustrasi pertemanan AI
Berhadapan dengan teman toxic sering bikin energi terkuras tanpa disadari. Mereka bisa hadir dalam bentuk teman yang selalu meremehkan, suka memanfaatkan, sering membuat drama, atau terus-menerus membawa vibes negatif ke hidup kita.

Situasi seperti ini tidak selalu mudah diputus begitu saja karena kita mungkin sudah berteman lama, satu circle, atau terlanjur dekat.

Tapi ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menjaga diri tanpa harus menciptakan konflik besar.

Salah satu langkah paling dasar adalah menetapkan batasan. Teman toxic biasanya akan terus melangkahi batas selama kita membiarkan mereka melakukannya.

Batasan bisa berupa mengurangi intensitas komunikasi, menolak ajakan yang kamu rasa tidak nyaman, atau dengan tegas mengatakan kalau kamu tidak suka perilaku tertentu.

Tidak harus marah atau meledak cukup sampaikan dengan jelas dan konsisten.

Ketika batasan sudah dibangun, mereka akan tahu sampai mana mereka bisa bersikap tanpa merugikanmu.

Cara lain yang tidak kalah penting adalah mengelola reaksi. Kita tidak bisa mengontrol perilaku toxic orang lain, tapi kita bisa mengontrol bagaimana kita merespons.

Misalnya, ketika mereka mulai mengeluh berlebihan, menyindir, atau memancing konflik, kamu bisa memilih untuk tidak terpancing, menjaga nada bicara tetap netral, atau bahkan mengalihkan topik.

Semakin kamu menunjukkan bahwa kamu tidak memberikan “bahan bakar”, semakin kecil kemungkinan mereka melanjutkan perilaku negatif itu.

Mengelola reaksi juga berarti tidak memasukkan semua kata-kata mereka ke hati, apalagi jika yang mereka ucapkan memang tidak konstruktif.

Langkah selanjutnya adalah mencari dukungan dari luar lingkaran pertemanan tersebut.

Bertukar cerita dengan teman yang lebih sehat, keluarga, atau seseorang yang kamu percaya bisa membantu kamu melihat situasi dari perspektif yang lebih objektif.

Kadang, kita tidak sadar telah terbiasa dengan perilaku toxic karena sudah terlalu lama di dalam lingkarannya.

Mendengar pendapat dari luar bisa membuka mata bahwa kamu memang perlu menjaga jarak atau bahkan meninggalkan hubungan itu demi kesehatan mental.

Terakhir, selalu pertimbangkan kemungkinan untuk melepaskan diri secara perlahan jika situasinya terus berulang dan mulai memengaruhi kesejahteraanmu.

Melepas pertemanan tidak harus dilakukan secara dramatis cukup dengan mengurangi intensitas bertemu, membalas pesan seperlunya, atau memprioritaskan kegiatan lain yang lebih positif.

Kadang, menghentikan hubungan toksik adalah bentuk self-care paling penting. Teman seharusnya membawa kenyamanan, bukan beban mental berkelanjutan.

Menghadapi teman toxic memang tidak mudah, tapi menjaga kesehatan emosional jauh lebih penting daripada mempertahankan relasi yang terus menyakiti.

Kamu tetap berhak untuk memilih lingkungan yang aman, suportif, dan membuatmu tumbuh.

Jika kamu mau, aku bisa bantu buat versi yang lebih panjang, lebih psikologis, atau lebih formal seperti artikel media tinggal bilang saja.

Writer Naela Alfi Syahra

Editor : Bahana.
#drama #teman toxic