Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal FOMO, FOBI dan JOMO: Psikologi Pilihan Sosial di Era Tekanan Digital

Bahana. • Rabu, 26 November 2025 | 20:15 WIB

Ilustrasi Fomo di kalangan Gen Z.
Ilustrasi Fomo di kalangan Gen Z.

Di tengah derasnya arus informasi dan kehidupan sosial digital yang serba cepat, banyak orang mulai menyadari bahwa kehadiran tidak selalu identik dengan kebahagiaan.

Ada tiga istilah yang kini sering digunakan untuk menggambarkan pola respons psikologis seseorang terhadap dinamika sosial: FOBI, FOMO, dan JOMO.

Ketiganya mewakili cara individu memandang undangan, kesempatan, dan keputusan untuk hadir atau tidak hadir dalam sebuah aktivitas sosial.

Fenomena ini muncul kuat di era media sosial, ketika orang setiap hari diperlihatkan kehidupan “sempurna” orang lain penuh liburan, pesta, pencapaian akademik atau karier, dan aktivitas yang tampak menakjubkan.

Di balik layar, tekanan untuk selalu terlibat, terlihat aktif, dan tidak ketinggalan membuat banyak orang kehilangan makna utama dari kebahagiaan itu sendiri.

Dr. Aliaz, seorang Konsultan Psikologi Organisasi, melalui akun X @DrAliziAlias, menjelaskan perbedaan antara FOMO, FOBI dan JOMO sebagai berikut:

1. FOBI, Fear of Being Invited

FOBI adalah rasa takut saat mendapatkan undangan atau ajakan berkumpul. Berbeda dari sifat introvert biasa, FOBI muncul karena adanya kecemasan sosial, rasa tidak nyaman, atau tekanan ketika seseorang merasa harus tampil sesuai ekspektasi orang lain.

Orang dengan FOBI cenderung:
• Merasa cemas saat mendapat undangan
• Takut mengecewakan orang bila menolak ajakan
• Khawatir tentang penilaian sosial atau penampilan diri
• Lebih memilih menarik diri untuk menghindari stres
Fenomena FOBI sering dialami oleh mereka yang sedang kelelahan mental (burnout), memiliki masalah kepercayaan diri, atau berada dalam kondisi psikologis yang rapuh.

2. FOMO, Fear of Missing Out

FOMO adalah ketakutan akan kehilangan kesempatan atau ketinggalan momen penting. Biasanya dipicu oleh media sosial ketika seseorang membandingkan hidupnya dengan orang lain. FOMO membuat seseorang terus ingin hadir di banyak kegiatan karena takut terlihat tidak mengikuti tren atau merasa kurang berharga.

Orang dengan FOMO sering:

• Menyusun agenda terlalu padat agar selalu tampak “ada”
• Sulit menolak ajakan walaupun sedang lelah
• Terobsesi melihat postingan orang di media sosial
• Mudah cemas ketika melihat teman berkumpul tanpa dirinya
FOMO ternyata berhubungan dengan stres tinggi, kelelahan emosional, dan menurunnya kualitas hidup karena seseorang hidup berdasarkan ekspektasi orang lain, bukan kebutuhan diri.

3. JOMO, Joy of Missing Out

Berbeda dari dua istilah sebelumnya, JOMO adalah bentuk penerimaan dan kebahagiaan ketika seseorang memilih tidak hadir dalam sebuah acara karena ingin memberi ruang untuk diri sendiri.

JOMO bukan tentang menghindar, tetapi tentang menyadari bahwa kebahagiaan tidak harus diperoleh dari kehadiran di banyak tempat atau mengikuti semua tren.

Di era tekanan sosial dan kebisingan digital, kebahagiaan sejati sering kali ditemukan bukan dengan berada di banyak tempat, tetapi dengan berani memilih mana yang benar-benar penting. Pada akhirnya, keputusan untuk hadir atau tidak adalah bentuk kendali diri sendiri bukan atas ekspektasi orang lain.

Karena bahagia bukan soal berada di mana-mana, tetapi berada di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan hati yang tenang.

Muhtar Dinata

Editor : Bahana.
#jomo #fobi #fomo