Ialah JOMO atau Joy of Missing Out.
Berkebalikan dengan FOMO (Fear of Missing Out) yang membuat seseorang takut ketinggalan tren, JOMO justru merayakan kebahagiaan ketika seseorang tidak ikut dalam arus tersebut.
Fenomena ini mulai banyak dibicarakan sepanjang 2025 seiring meningkatnya kejenuhan masyarakat terhadap media sosial mulai dari banjir konten pencapaian, gaya hidup glamor, hingga tekanan untuk selalu tampil produktif.
Fenomena JOMO juga membuat banyak orang kembali menikmati hal-hal sederhana yang dulu kerap terlewat: merawat tanaman, membaca buku, membuat scrapbook, atau menikmati kopi tanpa buru-buru mengabadikannya.
Meski identik dengan menjauh dari keramaian, para ahli menegaskan bahwa JOMO bukan berarti antisosial.
Justru, JOMO membantu seseorang memiliki kontrol lebih besar atas ruang privatnya.
Seiring meningkatnya kesadaran tentang kesehatan mental dan kejenuhan teknologi, beberapa orang mulai menjalani Unplug Day, sehari tanpa gadget dan media sosial untuk memberi jeda bagi otak dan tubuh.
Beberapa riset mendukung manfaat dari istirahat gadget singkat:
Studi dari University of Melbourne menunjukkan bahwa digital break singkat menurunkan tingkat stres dan meningkatkan performa kognitif.
Penelitian di Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking menemukan bahwa jeda dari media sosial meski hanya 24 jam dapat meningkatkan “subjective well-being” dan mood positif.
Riset dari Nottingham Trent University menyimpulkan bahwa penggunaan ponsel dapat memicu behavioral addiction patterns, sehingga istirahat terjadwal mampu memutus pola tersebut.
Artinya: bahkan sehari saja sudah memberi dampak nyata
Bahkan terdapat penelitian menarik yang benar-benar menguji efek sehari tanpa notifikasi.
Dalam studi Productive, Anxious, Lonely-24 Hours Without Push Notifications”, 30 partisipan menonaktifkan semua notifikasi selama 24 jam.
Hasilnya, mereka merasa lebih produktif, karena gangguan konstan berkurang. Namun, sebagian juga merasa cemas, ada rasa “harus respons” menghilang, tapi kemudian muncul kekhawatiran soal koneksi sosial.
Beberapa menyebut merasa “lebih kurang terkoneksi” dengan teman atau kelompok sosial mereka.
Meskipun begitu, dua pertiga dari mereka memilih untuk mengubah kebiasaan notifikasi setelah tantangan itu berakhir dan setengah dari mereka masih mempertahankan perubahan itu dua tahun kemudian.
Studi ini memperlihatkan bahwa jeda digital singkat memang membawa keuntungan (fokus, produktivitas), tetapi juga tantangan emosional (perasaan jauh dari lingkaran sosial).
Unplug Day bukan hal mulus 100%. Berdasarkan temuan penelitian notifikasi tadi: ada rasa kesepian setelah mematikan notifikasi, karena sebagian orang merasa kurang responsif atau “terputus” dari lingkaran sosial.
Ini wajar karena efeknya bukan serta-merta “bahagia tanpa ponsel”, tapi sebuah proses adaptasi.
Ide Aktivitas Saat Unplug Day
1. Agar tidak kebingungan tanpa gawai, berikut aktivitas yang bisa dicoba:
2. Membaca buku fisik
3. Jalan pagi, bersepeda, atau hiking ringan
4. Journaling
5. Masak resep baru
6. Main board game
7. Meditasi atau yoga
8. Quality time bersama keluarga atau teman
Mulai JOMO dengan Cara Sederhana
1. Untuk pemula, langkah kecil bisa dilakukan:
2. Pilih satu hari tanpa layar, misalnya Minggu
3. Beri tahu keluarga atau teman sebelumnya
4. Siapkan aktivitas alternatif
5. Simpan ponsel di tempat yang tidak terlihat
6. Nikmati keheningannya, biarkan prosesnya berjalan
Di era serba cepat, kita sering merasa harus selalu terhubung, selalu responsif, selalu hadir di ruang digital.
Padahal, manusia tidak diciptakan untuk menerima arus informasi tanpa henti.
JOMO mengingatkan bahwa melepaskan bukan berarti tertinggal melainkan menemukan kembali diri sendiri.
Sehari tanpa gadget memang tidak serta-merta mengubah hidup, tapi bisa menjadi awal dari hubungan digital yang lebih sehat dan seimbang.
Karena pada akhirnya, JOMO bukan tentang memutus koneksi melainkan menyambung kembali dengan hidup yang lebih nyata.
Muhtar Dinata