RADAR JOGJA - Tuntutan untuk selalu produktif, sering dinilai sebagai bentuk ambisi dan semangat yang tinggi.
Namun, tanpa disadari kebiasaan ini dapat menjadi beban yang membuat seseorang merasa tertekan karena tidak adanya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Fenomena ini sering kita dengar dengan istilah toxic productivity, yaitu keadaan dimana seseorang terus memaksa dirinya untuk terus melakukan sesuatu yang bermanfaat meski tubuh dan pikirannya sudah lelah.
Adapun contoh perilaku toxic productivity yang sering terjadi:
1. Mengorbankan waktu tidur demi mengejar deadline.
2. Terus menerus mengurus pekerjaan bahkan saat weekend atau liburan.
3. Mengorbankan waktu untuk keluarga dan teman demi pekerjaan.
4. Melewatkan waktu istirahat demi waktu bekerja yang lebih lama.
5. Selalu ingin terlihat sibuk.
6. Merasa selalu tidak cukup walau sudah berhasil.
7. Gelisah dan cemas saat tidak ada pekerjaan.
8. Multitasking berlebihan sehingga menurunkan fokus dan kualitas kerja.
9. Over Planning, yaitu selalu merencanakan sesuatu tapi tidak benar-benar terealisasikan.
10. Menolak bantuan orang lain, karena merasa mampu untuk melakukannya sendiri.
Menjadi produktif adalah hal yang baik, namun bila dilakukan secara berlebihan dan memaksakan diri hanya akan menimbulkan kelelahan baik secara fisik maupun mental.
Maka dari itu, yang terpenting adalah keseimbangan antara pekerjaan dan beristirahat tanpa merasa bersalah.
Sebab produktivitas bukan dinilai dari seberapa banyak kita bekerja, tetapi seberapa bijak kita dapat mengelola energi dan waktu yang kita miliki agar hidup tetap seimbang. (Desfina Citra)
Sumber: