RADAR JOGJA - Pola hidup sehat lewat konsumsi makanan rebus kini tengah menjadi tren. Dampak nyata terhadap kesehatan pun turut dirasakan oleh Rastri Paramita.
Mita sudah sejak satu terakhir ini rutin mengurangi konsumsi gorengan. Kemudian beralih ke makanan yang direbus. Makanan rebus yang dikonsumsi pun beragam dan disesuaikan dengan kecukupan gizi.
Dia mengaku, motivasi untuk mulai mengubah pola makan didasari karena kondisi tubuhnya. Berat badan yang terus naik memaksanya untuk mulai mengurangi makanan berminyak. “Ternyata dengan badan yang gemuk itu, asam uratnya naik," ujar Mita saat ditemui Radar Jogja Jumat (31/10).
Seorang dokter spesialis mata ini menyampaikan, perubahan pola makan ini menjadi antisipasi baginya agar tidak mengidap diabetes. Lantaran kondisi badan yang gemuk dan asam urat tinggi menempatkannya pada risiko tinggi diabetes.
Upaya perubahan pola hidup dengan rutin mengonsumsi makanan direbus memang bukan hal yang mudah. Namun memang, dia belum setiap hari memakan rebusan. “Contohnya saya sekarang lebih memilih menu seperti tempe yang dibacem daripada tempe goreng, atau ayam yang diungkep,” beber Mita.
Perubahan pola makan itu membawa hasil yang signifikan. Misal kadar gula darahnya menjadi lebih terkendali. Lalu badan merasa nyaman dan tidak mudah mengantuk.
Walaupun sudah mulai merubah pola makan, Mita berpesan agar orang yang mulai menerapkan gaya hidup tersebut haru tetap diimbangi dengan olahraga. Sebab jika hanya mengonsumsi makanan rebus tanpa dibarengi kegiatan fisik, dinilainya akan sia-sia. “Paling tidak setiap hari jalan kaki, itu sudah cukup baik untuk memulai gaya hidup sehat,” ungkapnya. (inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita