Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ngalong Demi Cuan: Cerita Mahasiswa Yogyakarta Jadi Driver Ojol hingga Subuh

Magang Radar Jogja • Sabtu, 11 Oktober 2025 | 16:10 WIB
Kebijakan aplikator terhadap pengemudi ojol berbeda-beda terkait pemberian THR. 
Kebijakan aplikator terhadap pengemudi ojol berbeda-beda terkait pemberian THR. 

 

YOGYAKARTA – Di balik kesibukan kampus dan tumpukan tugas kuliah, ada banyak mahasiswa yang memilih menambah aktivitas lain: menjadi driver ojek online (ojol). Tak sekadar kerja sambilan, ini jadi jalan untuk bertahan hidup di tengah tuntutan ekonomi sebagai anak rantau.

 

Adalah Yudha dan Deva, dua mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta yang sejak awal kuliah memilih menarik orderan makanan sebagai driver ojol. Keduanya mulai bergabung sejak 2021—tahun pertama mereka merantau ke Yogyakarta.

 

“Awal masuk kuliah kan jadwal masih longgar, tugas belum banyak. Jadi kepikiran cari kerja sampingan yang fleksibel. Akhirnya coba daftar ShopeeFood,” cerita Yudha.

 Baca Juga: Penghilatan Kabur, Bejo Peserta Pesta Miras Oplosan di Magelang yang Selamat Ditinggal Mati Semua Teman Proyek

Pukul kerja mereka biasanya dimulai sejak pukul 3.00 sore, sepulang kuliah, dan bisa berlanjut hingga malam hari. Tapi tidak jarang pula, mereka "ngalong" alias tetap aktif hingga dini hari, demi mendapatkan orderan tambahan.

 

“Ngalong itu kalau lagi butuh tambahan buat jajan atau keperluan mendesak. Biasanya selesai narik pukul 3.00 subuh. Tapi justru waktu malam orderan malah sering lebih ramai, karena banyak orang lapar tengah malam,” ungkap Deva sambil tertawa kecil.

 

Meski bisa dibilang fleksibel, pekerjaan sebagai driver ShopeeFood tetap menuntut manajemen waktu yang baik. Keduanya mengaku tetap menomorsatukan perkuliahan.

 Baca Juga: Jalani Kuliah S3 di UGM hingga Dua Kali Seminggu, Bupati Sleman Harda Kiswaya Mengaku Tak Alami Kesulitan

“Kuliah tetap prioritas. Jadi narik orderan disesuaikan sama jadwal kuliah. Kalau pagi ada kelas, ya siangnya baru narik. Begitu sebaliknya,” kata Yudha.

 

Pekerjaan ini juga mengajarkan banyak hal: tentang tanggung jawab, menghadapi orang dengan karakter berbeda-beda, hingga sabar dalam tekanan. Tidak sedikit pengalaman menyebalkan mereka temui di lapangan.

 

“Pernah HP lowbat di tengah jalan, pernah juga dimarahin pelanggan gara-gara telat padahal resto-nya yang lama. Pernah juga dikasih bintang 1 karena katanya makanan tumpah, padahal kita udah hati-hati banget,” cerita Deva.

 Baca Juga: Jual Kardus Bekas untuk Bantu Siswa, Upaya SMK Muhammadiyah Kretek Menekan Angka Putus Sekolah

Soal penghasilan, keduanya menyebut pendapatan harian rata-rata di kisaran Rp50.000 – Rp100.000 tergantung durasi narik dan pukul operasional. Jika hanya aktif sore sampai malam, biasanya berkisar Rp 50.000. Tapi jika sampai “ngalong”, bisa menembus Rp 100.000 per hari.

 

“Lumayan buat bayar makan, bensin, kadang bisa nabung juga. Apalagi kalau narik pas hujan, biasanya ada insentif tambahan,” kata Yudha.

 

 

Cerita Yudha dan Deva bukan hal asing di Yogyakarta. Banyak mahasiswa dari berbagai kampus memilih jalan serupa—berjuang di balik jaket oranye, menembus jalanan demi cuan, dan tetap mengejar mimpi di ruang kelas.

 Baca Juga: JJLS Jadi Ikon Baru Gunungkidul, Pemkab Canangkan Rest Area Kelok 23 sebagai Magnet Baru Investasi Pariwisata

Bagi mereka, menjadi driver ShopeeFood bukan hanya tentang uang. Ini tentang bertahan hidup, belajar mandiri, dan memahami realitas keras dunia orang dewasa.

 

“Capek sih pasti. Tapi dari sini kami belajar. Gimana rasanya cari uang sendiri, ngatur waktu, menghadapi orang. Jadi pengalaman hidup yang nggak diajarin di bangku kuliah,” pungkas Deva.

 Antonius Bondan Satrio Aji

Editor : Heru Pratomo
#Mahasiswa #Yudha #cuan #shopeefood #Ngalong #ojol #Kuliah #UNY #sambilan #subuh #Ojek Online