RADAR JOGJA - Berbagai aksi demonstrasi yang terjadi saat ini tidak lepas dari peran media sosial. Berbagai kanal yang ada jadi wadah untuk menyebarkan informasi. Baik itu teknis demo, hal-hal unik, hingga kekerasan oleh aparat.
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Mahasiswa (KM) UNY Rajesh Singh menilai, peran media sosial begitu besar. Terlihat dari kasus pengemudi ojol yang tewas dilindas aparat. Tidak sampai 24 jam, peristiwa tersebut sudah diketahui oleh berbagai lapisan masyarakat di Indonesia.
Baca Juga: Istri dari Pejabat Pemkab Sleman, Sekda Ingatkan Dharma Wanita untuk Tidak Flexing
"Penting untuk menyadarkan masyarakat dari seluruh elemen," terangnya dihubungi melalui sambungan telepon Kamis (11/9).
Menurut pengamatannya, orang-orang di sekitarnya yang sebelumnya tidak memiliki kesadaran politik dan cenderung diam bisa jadi ikut bersuara. Salah satunya dengan mengunggah suara-suara protes di media sosial.
"Saya melihat mereka semakin rutin dan konsisten bersuara di media sosial," ucapnya.
Walau demikian, dia tidak menampik bahwa ini juga jadi alat untuk membenturkan gerakan masyarakat. Utamanya lewat narasi dan informasi yang membakar emosi. Salah satu yang marak digunakan adalah teknologi AI.
Baca Juga: Usai Dialog GNB, Prabowo Putuskan Tim Reformasi Polri Dibentuk!
Dalam sebuah gelombang gerakan yang besar, dia yakin pasti ada oknum yang ingin membenturkan. Dengan harapan bisa meredam aksi atau amarah masyarakat. "Gerakannya tidak jadi gelombang besar lagi. Saling dibentrokkan," tambahnya.
Untuk itu, dia menilai seluruh masyarakat sipil harus bijak dalam menggunakan media sosial. Mengingat sering terjadi ketika narasi sudah berkembang luas, warganet tidak bisa menyaring kebenarannya. Termasuk mengidentifikasi siapa yang membuat konten tersebut. "Harus tahu kanal yang punya integritas tinggi untuk menyaring mana yang bisa dipercayai. Harus dipelajari," pesannya.
Menurutnya, gerakan demonstrasi masih relevan hingga kapan pun. Ini merupakan sebuah cara untuk menyampaikan kritik agar penguasa tidak semena-mena. Dia justru berharap agar aksi semacam ini bisa terus berlipat ganda. Dengan demikian, demokasi bangsa bisa berkembang. Tidak justru mundur ke belakang.
"Aksi yang ada sampai sekarang itu ada lewat gelombang kecil. Terus membesar karena ada tunjangan DPR sampai ojol yang dilindas aparat," katanya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita