PURWOREJO - Sejumlah santri pondok pesantren An-Nawawi, Purworejo tampil di panggung Jogja Fashion Week 2025. Mereka membawa karya busana apik yang telah terkurasi oleh desainer berpengalaman.
Hasil kreativitas santri ini pun sukses menyedot perhatian pengunjung. Dari sekian banyak karya, salah satunya mengusung tema Bunga Peony. Konsep tersebut diambil untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat terkait relevansi antara fashion dan kelestarian lingkungan.
"Kami ingin sampaikan makna, fesyen itu bukan soal tren, tetapi juga simbol perubahan," jelas Perwakilan Tim Desainer Santri An-Nawawi Lu'luil Maknun, melalui pesan singkat, Jumat (8/8).
Ia menjelaskan, Bunga Peony dikenal sebagai jenis tanaman hias yang memiliki umur panjang serta ramah lingkungan. Bentuknya yang menarik dan warna yang begitu cerah menjadi pertimbangan bunga ini dijadikan insipirasi desain busana. Konsep ini juga untuk menyuarakan pentingnya menciptakan mode busana yang selaras dengan kelestarian alam.
Selain desain, pemilihan meterial bahan juga sengaja menggunakan kain viscose yang mudah terurai dibandingkan bahan busana lain. Keunggulan lainnya adalah aksen pada aksesoris dirancang dapat dibongkar pasang, sehingga diharapkan dapat mengurangi limbah fesyen.
"Bagi kami dunia fesyen juga perlu peduli terhadap iklim dan lingkungan," jelasnya.
Sementara itu, guru pembimbing dari jurusan Desain Produksi Busana SMK An-Nawawi Sara Mutamimma Rahmati mengatakan, hadirnya santri di ajang fesyen bergengsi menunjukkan kalangan pesantren mampu berkontribusi dan berkompetisi.
Ia juga bangga karena dari ajang bergengsi tersebut anak didiknya dapat mengambil ilmu dan pengalaman dari desainer ternama, seperti Vivi Zubedi, Dian Pelangi hingga Ivan Gunawan.
Dari ajang ini ia bersama tim ingin membawa pesan bahwa busana bukan soal model, namun juga sarana menyuarakan narasi sekaligus makna keberanian. Kemudian sebagai wahana kampanye agar masyarakat bangga terhadap produk lokal. "Kami ingin menunjukkan karya santri bisa bicara ke level lebih tinggi," jelasnya. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo