JOGJA - Dalam beberapa tahun terakhir, tren hidup sehat telah melahirkan berbagai jenis olahraga baru. Tak hanya menyehatkan tubuh, tapi juga menyentuh sisi emosional dan estetika. Salah satunya adalah aerial yoga. Yakni latihan yang menggabungkan unsur yoga, seni, dan terapi lewat gerakan akrobatik di udara menggunakan kain atau hammock maupun hoop.
Meski belum sepopuler yoga konvensional atau pilates, peminatnya terus bertumbuh. Terutama dari mereka yang mencari keseimbangan antara tantangan fisik dan kedamaian mental.
Baca Juga: Kandaskan Persebaya Surabaya, PSIM Amankan Tiga Poin dari Gelora Bung Tomo
Luki Irawan, 42, mengaku telah menekuni aerial yoga selama tujuh tahun. Perjalanannya dimulai dari kebiasaan nge-gym pada 2018, hingga akhirnya dia mengikuti kelas yoga. “Awalnya yoga biasa dulu. Setelah dua tahun, saya melihat ada kelas aerial dan coba-coba. Ternyata cocok,” ujar Luki Jumat (8/8).
Ketertarikannya pada aerial yoga muncul karena sifatnya yang tidak monoton. Sebab aerial harus mengondisikan tubuh dalam keadaan terbalik. “Itu membuat saya tertantang,” tuturnya.
Baca Juga: Tidak Hanya Bertugas Kibarkan Bendera, Paskibraka Sleman Akan Jadi Duta Pancasila
Menurut Luki, olahraga ini tidak mudah dijalani semua orang. Banyak orang merasa takut karena harus tergantung di udara. Terutama bagi yang memiliki fobia ketinggian atau takut jatuh.
Tantangan awalnya, pemula pasti akan meraskan pusing, mual, bahkan muntah. “Itu hal yang wajar. Badan perlu menyesuaikan,” jelasnya.
Meski demikian, yoga ini memiliki manfaat yang luar biasa. Khususnya untuk fleksibilitas tubuh. Karena melawan gravitasi, tubuh ditopang oleh hammock, sehingga membantu memperkuat otot inti (core) dan menjaga keseimbangan.
Ia juga merasakan kenyamanan pada tulang belakangnya saat melakukan posisi tergantung. “Rasanya seperti ada efek memanjangkan tulang belakang, mengurangi tekanan di punggung, dan memberikan rasa darah," bebernya.
Gerakan lembut dan sensasi ayunan dalam aerial juga menenangkan sistem saraf dan melancarkan peredaran darah.
Sementara itu, Yustina, 43, baru sekitar delapan bulan mengenal aerial yoga. Berbeda dengan Luki yang lebih nyaman dengan hammock, Yustina justru memilih aerial hoop.
Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar olahraga. Tetapi juga bentuk seni dan terapi. “Kita belajar percaya pada diri sendiri, harus tahu kapan harus mendorong diri, kapan harus berhenti. Ini melatih koneksi tubuh dan pikiran.” Bebernya.
Baginya, aerial yoga dengan hoop juga memberi efek pada kekuatan otot. Terutama otot-otot yang jarang diperhatikan sebelumnya. “Saya merasa lebih percaya diri. Ada sedikit unsur healing juga,” tambahnya.
Yustina mengakui bahwa tantangan utamanya adalah saat pertama kali harus berputar 360 derajat di hoop. Jika tekniknya salah, bisa pusing. Namun, setelah memahami cara masuk dan keluar dari hoop, dia merasakan sensasi flow yang menyenangkan. (cr2/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita