Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jogja Last Friday Ride Muncul sejak 2010, Tumbuhkan Nuansa Kota Joga yang Berbeda dari Kota Lain

Agung Dwi Prakoso • Sabtu, 2 Agustus 2025 | 14:00 WIB

 

 

ANTUSIAS: Para peserta Jogja Last Friday Ride saat bersepeda bersama melewati kawasan Tugu Pal Putih, Jogja Jumat (25/7).
ANTUSIAS: Para peserta Jogja Last Friday Ride saat bersepeda bersama melewati kawasan Tugu Pal Putih, Jogja Jumat (25/7).

RADAR JOGJA - Even Jogja Last Friday Ride (JLFR) yang dulu sempat booming kini mulai menggeliat lagi. Even tersebut muncul sekitar 2010, bertepatan dengan periode kepemimpinan Herry Zudianto (HZ) sebagai wali Kota Jogja.

Pada masa dia menjabat, program di Pemkot Jogja cukup banyak memperhatikan aktivitas bersepeda yang diterapkan kepada para pejabat dan masyarakat. Bahkan dia seringkali berangkat dari rumahnya wilayah Pandeyan, Jogja menuju kantor dengan bersepeda. Dia juga beberapa kali mengikuti langsung gelaran even JLFR bersama dengan warga.

"Saya pernah ikut ke Kridosono juga, bahkan karena tidak enak badan dan memaksa malah sampai masuk angin terus ke IGD rumah sakit," ujarnya kepada Radar Jogja Jumat (25/7).

Momen itu yang sampai saat ini tidak bisa hilang dari ingatannya. Even yang rutin diadakan setiap pekan pada Jumat malam tersebut sering dia ikuti. Karena merupakan bagian dari gerakan bersepeda yang hidup kembali. Dia bahkan menyarankan Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo yang saat ini menjabat bisa turut hadir dan mengikuti even tersebut secara langsung.

"Jadi ada keteladanan dan nyontoni," ucap wali Kota Jogja periode 2001-2011 itu.

Inisiator gerakan Sepeda Kanggo Sekolah lan Nyambut Gawe (Sego Segawe) itu menilai, JLFR menjadi tren yang positif bagi masyarakat. Kegiatan itu menumbuhkan nuansa Jogja yang berbeda dengan kota lain. Secara geografis, di Jogja mendukung untuk bersepeda dengan santai karena kondisi jalan tidak naik turun.

"Jogja bisa menjadi inisiator gerakan ramah lingkungan," kata HZ.

Pada masa pemerintahannya, beberapa fasilitas khusus untuk pesepeda di jalan juga banyak dibuat. Contohnya seperti ruang tunggu khusus sepeda di traffict light, jalur sepeda, dan tanda jalan pintas pesepeda.

Bahkan dulu, dia juga memberikan sepeda kepada para kapolsek yang ada di wilayah Kota Jogja. Ia membayangkan, para personel polisi berpatroli dengan bersepeda. Menurutnya, lebih pas dan lebih merakyat. Terlebih jalanan di kampung-kampung Jogja banyak yang sempit dan hanya bisa dilalui sepeda.

"Masuk kampung, polisi bisa lebih dekat dengan masyarakat," ujarnya.

 

Menurutnya, JLFR bisa semarak kembali dengan adanya keteladanan atau patron yang menggelorakan even tersebut. Termasuk pihak pemerintah yang mendukung kegiatan tersebut. Kebiasaan bersepeda baginya bukanlah tren yang mundur ke masa lalu. Tetapi malah maju mempersiapkan ke masa depan.

"Menjaga agar alam tetap baik di masa depan, mengurangi polusi," sebutnya.

Bersepeda, lanjutnya, juga mencegah perilaku hedonisme siswa yang saat ini banyak mengandalkan motor untuk bersekolah. Bahkan hingga meminta dengan memaksa kepada orang tuanya.

Kemudian timbul sifat pamer dan saling saing antara teman terkait kendaraan yang dimiliki. Sifat pamer itu, menurutnya akan berkurang seiring bersepeda kembali menjadi tren. "Ora njuk malah pamer mobil pamer motor, tapi bersepeda dengan sederhana," tegasnya. (oso/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Sego Segawe #JLFR #Kota Jogja #Tren Positif #Sepeda Kanggo Sekolah lan Nyambut Gawe #Wali Kota Jogja #sepeda #pesepeda #Bersepeda #Jogja Last Friday Ride #Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo #Herry Zudianto #even