RADAR JOGJA - Salah satu penyedia jasa joki game online adalah Marzuki Rahmat. Menurutnya, jasa joki ini banyak digunakan pelanggan yang sibuk maupun tidak jago bermain. Sehingga bisa tetap memiliki rangking yang tinggi. Rata-rata pelanggannya merupakan pekerja dengan usia 20 tahun ke atas.
"Orang kerja pengen ngilangin stres dengan main game. Kalau nge-game kalah terus malah tambah setres," katanya.
Baca Juga: Van Gastel Sebut Uji Tanding PSIM Jogja Lawan Bali United untuk Tingkatkan Ketahanan Pemain
Pemilik usaha Qiano Official ini menyebut, harga yang ditentukan untuk setiap joki berbeda-beda. Tergantung jenis game, target yang diinginkan, hingga status dari permain itu sendiri. Harga tersebut ditentukan oleh worker. Sebutan untuk orang yang mengerjakan pesanan joki game ini.
"Mereka bisa menganalisa kesulitan setiap rangking," katanya.
Apabila worker menyebut satu bintang seharga Rp 5 ribu, maka dia akan menjual Rp 7 ribu atau Rp 7.500. Dia menyebut, satu pelanggan bisa membayar hingga Rp 1 juta untuk joki game ini.
Baca Juga: Pameran Museum of Laskar Mataram Hadirkan Jersey Ikonik Lintas Era, Jejak Sejarah Panjang PSIM Jogja
Laki-laki berusia 25 tahun ini menyebut, hampir semua game bisa dijoki. Terutama yang memiliki sistem rangking. Misalnya, Free Fire, Mobile Legends, sampai eFootball. Bisa juga untuk mencari misi-misi yang harus diselesaikan, seperti Genshin Impact.
Disinggung soal potensi gagal mencapai target pelanggan, Marzuki menyebut ada garansi yang diberikan. Misalnya, dalam perjanjian target bisa selesai 24 jam. Ketika tidak selesai bisa ditambahkan bonus bintang ataupun diamond-nya.
Baca Juga: Salut! Pegawai Kelurahan Gunungketur Jogja Patungan Beri Jaminan Kerja kepada Penggerobak Sampah
"Skill wajibnya memang pinter main game. Kalau ada order sampai begadang. Kalau enggak ada, mlongo juga," lontarnya.
Menurut Marzuki, joki game ini adalah solusi untuk mengelabui developer dari game. Sebab apabila pengguna naik rangking dengan nge-cheat bisa terdeteksi. "Akunnya bakal terblokir dan bisa hilang. Jadinya rugi," katanya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita