RADAR JOGJA - Di tengah derasnya arus modernisasi desain interior, gebyok atau dinding kayu berukir khas rumah-rumah Jawa, masih setia berdiri.
Tak hanya sebagai penanda ruang, tetapi juga simbol budaya dan spiritualitas. Elemen arsitektur lawas ini banyak digemari, bahkan merambah ke hotel, restoran, hingga panggung-panggung seni kekinian.
Lektor dan dosen jurusan Desain Interior Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Martino Dwi Nugroho menjelaskan, gebyok bukan sekadar ornamen.
Dalam arsitektur rumah Jawa, gebyok berfungsi sebagai pembatas antarruang sekaligus penanda hierarki ruang dari area publik ke area privat.
"Setiap perpindahan ruang itu ditandai dengan gebyok. Makin ke belakang ruangnya makin sakral dan private," katanya kepada Radar Jogja, Jumat (27/6).
Diakui, gebyok itu berfungsi menjadi semacam gerbang transisi.
Bahkan secara konsep pintunya juga sengaja dibuat lebih pendek agar orang yang masuk harus menunduk sebagai bentuk penghormatan.
Konsep ini, menurut Martino, merepresentasikan tata nilai masyarakat Jawa yang sangat menjunjung kesopanan dan struktur sosial dalam hunian.
"Tidak semua tamu bisa langsung melihat bagian dalam rumah, karena pandangan akan dibatasi oleh gebyok," ujarnya.
Dalam praktiknya, pada masa lalu tidak semua orang Jawa bisa memiliki gebyok. Hanya keluarga bangsawan atau kalangan priyayi yang mampu memiliki gebyok.
"Dulu hanya orang dengan status ekonomi tinggi yang punya gebyok. Dan awalnya gebyok itu justru simpel, polos, tanpa banyak ukiran," tambah Martino.
Namun seiring waktu, estetika turut mengambil peran.
Gebyok mulai dihiasi ukiran rumit dengan motif flora, fauna, hingga simbol wayang seperti gunungan atau naga.
Ukiran-ukiran itu bukan hanya memperindah, tetapi sarat makna filosofis, melambangkan keselamatan, harapan, hingga perlindungan dari energi buruk.
Saat ini gebyok hadir dalam berbagai wujud kontemporer.
Tidak hanya sebagai elemen arsitektur rumah adat seperti joglo dan limasan, gebyok juga digunakan sebagai dekorasi pelaminan adat Jawa, backdrop pertunjukan seni, hingga ornamen hotel dan vila bernuansa etnik.
Secara umum gebyok dibuat dari kayu jati atau kayu keras seperti sonokeling dan mahoni.
"Teknik ukirnya dikerjakan dengan tangan, menjadikan setiap gebyok unik dan tak ternilai," tandasnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun