Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Andy Amrullah Pernah Koleksi 75 Gebyok hingga Punya Berbagai Bisnis dari Kayu, Kini Peminat Masih Tinggi padahal Makin Habis

Cintia Yuliani • Minggu, 29 Juni 2025 | 12:50 WIB

 

 

KOLEKDOL: Andy dan koleksi gebyoknya yang berusia 100 tahun lebih.
KOLEKDOL: Andy dan koleksi gebyoknya yang berusia 100 tahun lebih.

RADAR JOGJA - Gebyok yang dikenal sebagai dinding rumah dari kayu, bukan sekadar barang antik bagi Andy Amrullah.

Lelaki 55 tahun yang awalnya hanya mengoleksi untuk hobi, karena ketertarikannya pada gebyok kini ia menjadi pelaku usaha rumah kayu, vila, hingga homestay bernuansa Jawa dengan ciri khas gebyoknya.

Dari sekadar rasa suka, Andy pernah memiliki hingga 75 gebyok dari berbagai jenis kayu.

"Dulu awalnya suka aja, seperti orang jatuh cinta. Saya lihat, hati ini kok nyes,” ujar Andy, Jumat (27/6).

ORI Minta Masyarakat Ikut Mengawasi dalam Pendaftaran SPMB, Cegah Jalur Afirmasi Disalahgunakan Oknum Tak Bertanggungjawab

Menurutnya, ketertarikan pada gebyok dimulai sejak awal 2000-an. Gebyok yang dimaksud Andy adalah dinding rumah dari kayu, meski ada juga yang menggabungkan dengan bambu.

Namun secara umum, istilah gebyok merujuk pada dinding rumah berbahan kayu utuh.

Baginya, gebyok dengan serat kayu jati adalah yang paling memikat.

“Saya lebih suka yang seratnya bagus dan awet seperti jati dan nangka,” tuturnya.

Perjalanan Andy sebagai kolektor lambat laun berubah arah. Tumpukan gebyok yang mulai memenuhi rumah membuat keluarga terutama istri komplain.

Akhirnya ia mulai menyortir dan menjual gebyok yang dianggapnya sudah membosankan.

Selain dikenal sebagai kolektor gebyok, lambat laun mulai dikenal sebagai penjual gebyok (kolekdol).

Kini, bisnis Andy berkembang pesat. Ia menjual berbagai bahan kayu seperti jati, sonokeling, nangka, lakban, hingga albasia.

Tak hanya menjual bahan, Andy juga membangun rumah kayu, vila, dan homestay di berbagai daerah, termasuk Yogyakarta, Jakarta, Bogor, Bandung, hingga Bali.

Vila dan homestay yang ia bangun selalu khas rumah kayu.

Konsepnya pun bisa dimodifikasi, terkadang digabung dengan kaca agar terlihat terang.

"Ada juga yang jadi restoran, kantor, sampai rumah pribadi,” ungkapnya.

Salah satu proyek kebanggaannya adalah Omah Guyub, homestay bernuansa Jawa yang juga mengusung konsep ekowisata dan kekeluargaan miliknya.

Di sana, tamu bisa memasak sendiri, belajar tani, berkebun, bahkan ikut produksi minyak kelapa dan tempe.

Ada pula pelatihan membatik dan kursus musik tradisional. “Konsepnya agar keluarga bisa bareng-bareng, masak sendiri, nikmati hasil panen, dan belajar budaya,” jelasnya.

Gebyok yang dikoleksi Andy bukan barang biasa. Beberapa di antaranya berusia lebih dari satu abad dan telah melewati tiga hingga empat generasi.

Meski sekarang koleksinya tak sebanyak dulu (kurang dari 10 lembar) Andy masih aktif menyukai gebyok. Ia memiliki rencana untuk melukis gebyok agar nilai jual dan value-nya bertambah.

"Namun belum sempat terealisasi, beberapa gebyoknya sudah laku terjual," ungkapnya.

Menurutnya saat ini peminat gebyok meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

"Dari dulu sampai sekarang semakin meningkat, padahal semakin habis," tutupnya. (cr2/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
#Yogyakarta #oldies #kajeng #pintu kayu #kayu #andy amrullah #jawa #gebyok