RADAR JOGJA - Random play dance (RPD) menjadi salah satu tren yang kini tengah digandrungi oleh fans dan pencinta koreografi Korean Pop (K-Pop). Sebuah kegiatan menari yang dilakukan secara acak sesuai dengan lagu yang dimainkan itu, ternyata sudah lama hadir di Indonesia.
Dosen Bahasa dan Budaya Korea UGM Suray Agung Nugroho mengatakan, RPD tidak hanya digandrungi di Indonesia. Namun juga berbagai belahan dunia. Terlebih suatu negara yang memiliki basis massa fans K-Pop yang besar.
Baca Juga: D3 Farmasi Paling Diminati, 2.139 Peserta Lolos SNBT Untidar Magelang
Misalnya seperti Amerika Serikat, Jerman, Thailand, dan Filipina. Bahkan tidak sedikit pula para fans kpop yang merekam aktivitas koreografi RPD-nya lalu di-upload ke sosial media.
Menurut Suray, media sosial dan acara Korea berperan cukup besar dalam berkembangnya tren RPD. Sebab dua media tersebut sering menampilkan aktivitas RPD. Sehingga banyak orang yang ikut-ikutan lalu menampilkan kemampuannya di berbagai platform media sosial.
“Menurut saya RPD ini sangat bisa menjadi magnet untuk menarik massa dan untuk meluapkan passion mereka dalam hal per-K-Pop-an,” ujar Suray Jumat (30/5).
Luapan tersebut juga tidak jarang ditampilkan oleh para penggemar K-Pop dalam berbagai kegiatan bertema Korea. Terkhusus bagi mereka yang menguasai koreografi atau paham dengan gerakan yang sesuai dengan lagu yang diputar.
Bagi yang paham atau menguasai koreografi, Suray memastikan, orang itu akan tertarik untuk langsung maju ke tengah acara dan berani tampil unjuk gigi untuk menari. Serta mengikuti potongan potongan lagu sepanjang 20 hingga 30 detik atau bagian refrain-nya.
“Itu kan jadi ajang seru-seruan antar fans K-Pop. Di Jogja saja, tiap di mal ada acara berbau Korea, pasti ada sisipan atau bahkan acara utamanya,” ungkap Suray.
Selain itu, sesi RPD juga dapat diadakan di outdoor atau indoor dan biasanya dapat diikuti tanpa biaya. Untuk Indonesia sendiri, tren tersebut kemungkinan booming sejak 2017 dan berkembang sampai sekarang.
Suray menilai, ngetrennya RPD juga tidak lain karena kegiatan tersebut memang seru dan interaktif. Aktivitas itu juga tidak memiliki batasan karena siapapun pun boleh ikut asal mengetahui koreonya. RPD tidak mengenal batas usia, latar belakang, maupun status ekonomi atau inklusif.
“Semua bisa merasa punya hak dan pantas untuk tampil dan unjuk gigi begitu reff lagu yang mereka kenal terdengar,” tegasnya.
Di sisi lain, kata dia, generasi sekarang juga cenderung menyukai hal-hal yang viral. Jadi dengan masuk atau ikut RPD, mereka bisa meminta temannya untuk merekam atau mungkin terekam oleh panitia acara RPD.
Jika konten yang dibuat masuk medsos dan viral, tentu membuat mereka lebih bangga. Karena bisa menunjukkan eksistensi yang ekspresif. Tidak sedikit pula yang menganggapnya sebagai ekspresi untuk melepas lelah dan stress.
Tapi yang paling penting, ada kekuatan komunal dalam RPD. “Jadi ajang ngumpul fans K-Pop lintas fandom. Semua fandom artis atau grup mana pun bisa menyatu. Ini yang hebat dan unik,” kata Suray. (inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita