Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ini Dia Alasan Kang Dedi Mulyadi Mengenakan Iket di Setiap Penampilannya hingga Tuai Kontroversi

Meitika Candra Lantiva • Senin, 28 April 2025 | 20:34 WIB
Ilustrasi Dedy Mulyadi mengenakan iket di tengah kehangatan warga.
Ilustrasi Dedy Mulyadi mengenakan iket di tengah kehangatan warga.
 
RADAR JOGJA — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, dikenal luas dengan penampilannya yang khas, mengenakan iket kepala putih dan pakaian pangsi. 
 
Iket tersebut bukan sekadar aksesori, melainkan simbol budaya Sunda yang sarat makna.​
 
Iket yang dikenakan Dedi Mulyadi dikenal sebagai "Makuta Wangsa", yang secara harfiah berarti "mahkota bangsa". 
 
Baca Juga: Masih Banyak Pelanggar, Implementasi Perda KTR di Malioboro Belum Maksimal Meski Sudah Lima Tahun Aturan Berjalan
 
Dalam tradisi Sunda, iket ini melambangkan kepemimpinan dan mengharuskan pemakainya mengamalkan Panca Dharma, yaitu:​
 
1. Menghormati asal-usul diri (Purwa Daksi)
2. Tunduk pada hukum dan peraturan
3. Memiliki pengetahuan dan tidak bodoh
4. Jujur dan akurat
5. Berani dan gagah​
 
"Iket mengandung makna mengikat kepala. Obyek yang diikat adalah kepala (pria). Kepala memiliki makna sebagai pemimpin tubuh dengan isinya yaitu otak," tulis buku Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
 
Sejak menjabat sebagai Wakil Bupati Purwakarta pada 2003, Dedi Mulyadi konsisten mengenakan iket sebagai bagian dari identitasnya.
 
Baca Juga: Heboh! Aura Cinta Diduga Model Pinjol, Polemik Wisuda dengan Dedi Mulyadi Makin Memanas
 
 
"Ya memilih ikat kepala memang ikat sudah bagian dari kehidupan saya," ungkap Dedi Mulyadi.
 
Bagi Dedi, iket merupakan simbol keterikatan pikiran oleh hati, sementara pakaian pangsi mencerminkan keterbukaan dan gerakan luas.​
 
Meskipun iket tersebut merupakan simbol budaya, Dedi Mulyadi tidak luput dari kontroversi.
 
Beberapa pihak menuduhnya tidak Islami karena mengenakan iket yang dianggap mirip dengan udeng Bali, serta kebijakannya yang dianggap mendukung budaya lokal secara berlebihan.
 
Baca Juga: Beukenhof Restaurant: Permata Kuliner Eropa di Kaki Gunung Merapi
 
Dedi menanggapi tuduhan tersebut dengan santai.
 
"Saya orang Sunda, tradisinya memang pakai ikat kepala. Eh, saya dituduh macam-macam. Jadi Hindu lah, murtad lah, kafir lah, bahkan ada yang menuduh Syiah," ​ujarnya.
 
Iket kepala Dedi Mulyadi telah menjadi ikon yang melekat pada dirinya.
 
Bahkan, produk iket dengan motif serupa dijual di berbagai platform e-commerce, menunjukkan bahwa gaya ini telah menjadi bagian dari budaya populer.​
 
Meskipun menghadapi berbagai kritik dan kontroversi, Dedi Mulyadi tetap teguh pada pendiriannya untuk menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Sunda melalui simbol iket Makuta Wangsa yang ia kenakan. (Affan Yunas Hakim)
Editor : Meitika Candra Lantiva
#penampilan #dedi mulyadi #Alasan Kang Dedi Mulyadi Mengenakan Iket #gaya busana Dedi Mulyadi #Budaya #kontroversi #iket Makuta Wangsa #sunda #kang dedi mulyadi #Iket kepala Sunda