RADAR JOGJA - Ramadan tidak bisa dilepaskan dengan fenomena berburu takjil. Bahkan kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh kaum muslim semata. Di Indonesia, Ramadan dan berburu takjil lebih dari sekadar momentum keagamaan tertentu. Namun sudah menjadi entitas keberagaman atau multikultural.
"Tidak lagi soal muslim atau bukan, tapi ada dalam satu momen yang dirayakan bersama. Non-Islam sudah sangat lazim untuk ikut buka puasa bersama. Atas dasar kebersamaan," sebut Dosen Pendidikan Sosiologi UNY Grendi Hendrastomo Jumat (28/2).
Dalam konteks takjil, baik pemburu maupun yang menyediakan tidak hanya beragama Islam. "Ramadan yang tadinya ritual keagamaan, jadi momen budaya. Karena tidak hanya orang Islam yang antusias," paparnya.
Di Indonesia sendiri, Ramadan sudah menjadi entitas budaya, dan gerakan kolektif. Menurutnya, meskipun masyarakat tidak berpuasa namun tetap ikut berburu takjil karena ingin merasakan pengalaman. "Experience untuk mencari takjil bersama, buka bersama, itu yang mereka cari," urainya.
Sehingga berburu takjil untuk buka bersama hingga sahur bersama kini sudah menjadi fenomena sosial. "Itu tidak lagi soal setelah puasa saya mau buka, tapi ada empati sosial yang ditularkan ke banyak orang, bersama-sama merasakan dan melakukan hal yang sama," sambungnya.
Grendi menilai, ada euforia dan kesenangan yang nyata dari orang-orang yang berburu takjil. Baik takjil berbayar yang sengaja dibeli, atau takjil gratis. "Ketika tidak puasa, makan tidak ada sepesialnya. Saat puasa, itu jadi momen penting, dan mereka ingin menunjukkan empati kolektif," ungkapnya. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita