JOGJA - Cangklong atau pipa rokok telah ada sejak lama. Bahkan dari zaman nenek moyang terdahulu. Secara fungsi, cangklong bisa membuat tarikan atau hisapan rokok jadi lebih halus.
Karena tembakau tidak langsung mengenai mulut. Selain itu, cangklong juga bisa mengurangi rasa asam dari tembakau. Serta bisa untuk mengurangi warna kuning pada gigi yang mungkin ditimbulkan dari tembakau.
“Namun secara bentuk dulu sederhana, dan bahan juga sedapatnya," ungkap Dosen Prodi Pendidikan Seni Kriya UNY Dr Muhajirin Jumat (31/1/2025).
Muhajirin cukup meyakini, cangklong merupakan penemuan dan budaya lokal masyarakat Indonesia. Meskipun, menghisap rokok dengan alat bantu ini juga ditemukan di negara lain. Hanya saja, bentuknya berbeda-beda.
"Seperti di Belanda, China, hingga timur tengah, dan Amerika latin. Mereka juga punya cangklong sendiri," bebernya.
Menyoal material yang digunakan, cangklong bisa dibuat dari tulang, kayu, hingga tanduk. "Kalau materialnya tanduk, seperti pakai tanduk kerbau," ujarnya.
Sementara material tulang, idealnya menggunakan tulang kaki atau rusuk. Seperti dari kambing, kerbau, dan sapi.
Dia menyebut, tulang binatang yang ukurannya besar cenderung lebih fleksibel untuk dibentuk. Sementara binatang yang tulangnya relatif kecil, ukurannya harus menyesuaikan.
Baca Juga: Modal Obeng, Ibu Rumah Tangga di Kebumen Gondol 37 Gram Emas Modus Dekat dengan Korban
Namun, material yang paling banyak dan lazim digunakan adalah kayu. Terlebih kayu memiliki bentuk yang unik, dan lebih variatif. Sebab zaman dahulu, orang menggunakan cangklong tidak hanya mementingkan fungsional saja. Tetapi juga menekankan aspek estetika dan filosofi.
"Zaman dulu cangklong dikaitkan dengan kekuatan mistis, jadi banyak yang dibuat dari kayu atau pohon yang bertuan," bebernya.
Seperti kayu nagasari dan kayu galih asem. “Dulu dianggap memiliki nilai supranatural," sambungnya.
Perihal anak muda yang banyak menggunakan cangklong, dia menilai hal itu adalah cara untuk menjajal sesuatu. "Mungkin ingin mencoba merasakan, dan itu salah satu pengembaraan rasa yang mereka cari," lontarnya. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita