RADAR JOGJA - Setiap bepergian, orang Indonesia hobi sekali membelikan oleh-oleh kepada orang terkasih.
Entah itu makanan, baju, atau sekadar gantungan kunci, rasanya kurang afdal kalau pulang tanpa bawa sesuatu buat keluarga, teman, atau bahkan tetangga.
Fenomena ini begitu umum sampai-sampai muncul istilah “tangan kosong adalah dosa sosial”.
Tapi, kenapa sih orang Indonesia begitu terobsesi dengan oleh-oleh?
Apakah ini sekadar kebiasaan, atau ada alasan budaya yang lebih dalam?
Yuk, kita kupas penyebabnya!
Budaya Berbagi
Salah satu alasan utama kenapa orang Indonesia doyan beli oleh-oleh adalah budaya berbagi yang kuat.
Dalam kajian antropologi, Clifford Geertz dalam bukunya The Interpretation of Cultures (1973) menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai gotong royong dan kebersamaan.
Memberikan oleh-oleh adalah salah satu bentuk ekspresi dari nilai ini.
Cara sederhana untuk menunjukkan bahwa seseorang masih terhubung dengan komunitasnya meskipun telah bepergian jauh.
World Giving Indeks juga memberikan label kepada orang indonesia sebagai orang paling dermawan sedunia selama enam kali berturut-turut.
maka tak heran setiap kali bepergian, orang indonesia doyan sekali membelikan barang untuk kerabat di daerah asal.
Bentuk Rasa Terima Kasih
Selain hobi berderma, ada juga faktor psikologis yang mendasari kebiasaan memberi oleh-oleh.
Dalam teori psikologi sosial, konsep timbal balik menjelaskan bahwa manusia cenderung merasa perlu untuk membalas kebaikan yang mereka terima.
Dengan memberi oleh-oleh, seseorang bisa menunjukkan rasa terima kasih kepada orang-orang yang telah membantu atau mendukung mereka selama ini.
Ini juga bisa memperkuat hubungan sosial dan menumbuhkan rasa kedekatan.
Pamer Status Sosial
Membelikan oleh-oleh erat kaitannya dengan status sosial seseorang.
Orang yang sering memberi oleh oleh akan dicap sebagai orang kaya dan dermawan.
Membelikan oleh-oleh juga menjadi simbol status yang menunjukkan seseorang telah melakukan perjalanan, apalagi jika ke tempat yang eksotis atau luar negeri.
Dengan membawa oleh-oleh khas dari suatu daerah, seseorang bisa mempamerkan perjalanannya tanpa harus banyak bercerita.
Faktor Ekonomi
Selain sisi budaya, membeli oleh-oleh juga memberi keuntungan secara ekonomi.
Banyak daerah di Indonesia yang menjadikan oleh-oleh sebagai salah satu daya tarik wisata.
Misalnya, Jogja terkenal dengan bakpia, Bali dengan pie susu, dan Medan dengan bika ambon.
Industri oleh-oleh ini menciptakan ekosistem ekonomi yang melibatkan produsen lokal, pedagang, hingga sektor transportasi dan logistik.
Tidak heran jika oleh-oleh terus dipromosikan karena menjadi salah satu instrumen penggerak ekonomi masyarakat.
Jadi, budaya memberikan oleh-oleh sangat terkait dengan budaya orang indonesia yang gemar berbagi.
Oleh-oleh juga menjadi faktor pendorong ekonomi di temapt destinasi wisata.
Oleh-oleh bukan sekadar barang, tapi juga memiliki makna yang lebih dalam dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia.
Nah, setelah ini jangan lupa memberikan oleh-oleh ya kepad kerabat dekat jika bepergian, selain mempererat hubungan, memeberikan oleh-oleh juga membantu industri lokal untuk berkembang. (Sulthan Zidan)