Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sarung Batik al-Juwani, Siap Mewarnai Kesan pada Bulan Ramadan Mendatang

Bahana. • Kamis, 30 Januari 2025 | 21:34 WIB

Sarung  al-Juwani dengan desain yang elegan dan modern, dengan tidak meninggalkan identitas Nusantara
Sarung al-Juwani dengan desain yang elegan dan modern, dengan tidak meninggalkan identitas Nusantara
RADAR JOGJA - Dengan desain yang elegan dan modern, dengan tidak meninggalkan identitas nusantara, al-Juwani siap menjadi sarung untuk memaknai bulan Ramadan kali ini.

Setiap goresan yang memiliki makna dari sarung al-Juwani, akan semakin terasa dengan momentum dalam menjalankan ibadah suci bulan puasa 2025 yang sudah ada di depan mata.

Makna dari setiap goresn batik al-juwani, selaras dengan nilai-nilai yang terkandung dalam menyambut bulan ramadan kali ini.

Selain keunggulan pada motif yang menyampaikan nilai-nilai moral, al-Juwani juga dibuat dengan bahan premium.

Sehingga sarung Al Juwani fleksibel untuk berbagai acara, baik formal maupun santai.

Untuk menciptakan fesyen yang stylish, sarung al-Juwani bisa dipadukan dengan pakaian modern, seperti kemeja lengan panjang atau kaos polos.

Terciptaanya sarung al-Juwani, merupakan tekad untuk mengubah pola pikir bahwa sarung adalah fashion yang tertinggal, padahal, sarung merupakan identitas bangsa atau nusantara.

Sehingga, al-Juwani hadir sebagai bentuk transformasi dan menciptaka bahwa sarung menjadi bagian penting dalam fashion pria modern.

Kehadiran al-Juwani juga untuk menyadarkan masyarakat Nusantara khusunya generasi muda, bahwa sarung sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari.

Sebagaimana diketahui, menjadi warisan budaya tak benda, batik memang menjadi identitas dan bangsa Indonesia.

Batik hadir, tidak hanya sebagai pakaian tradisional yang dipakai acara formal dan non formal, batik hadir dengan membawa kisah dan cerita budaya dari mana batik itu berasal.

Seperti batik al-Juwani misalnya, mereka menciptakan batik dengan menanamkan cerita, sejarah hingga makna bagi sendi-sendi kehidupan manusia.

Satu diantara batik yang mereka produksi adalah batik motif Sido Drajad.

Batik Sido Drajad sendiri mempunyai motif yang klasik, dan berbeda dengan yang lain.

Motif Sido Drajad ini berbentuk tameng yang bermakna menangkis atau menolak balak dari kesialan, dengan begitu diharapkan derajat seseorang akan naik dan mencapai kesuksesan dan kemakmuran dalam hidupnya.

Muhammad Sutomo atau yang dikenal akrab dengan Gus Tomo, menjadi sosok di balik terciptanya batik dengan corak yang diangkat dari sejarah dan menyampaikan pesan tentang kehidupan.

Dia menjelaskan, Motif Sido Drajad merupakan salah satu motif batik klasik berasal dari Keraton Yogjakarta.

"Secara pengertian Basa Jawa, SIDO berarti jadi atau mendapatkan atau berhasil atau bisa berarti pencapaian. Sedangkan DRAJAD artinya kepangkatan, jabatan atau kedududukan, dengan memakai batik tulis sido drajad mengandung filosofi doa pengharapan agar di mudahkan pencapaian kemakmuran, kesejahteraan, rejeki yang melimpah, drajad dan jabatan dalam kedudukan yang tinggi," kata Gus Tomo, beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan, simbol atau filosofi yang dimiliki oleh setiap motif batik itu dari berbeda-beda. Dia menjelaskan, motif batik unik yang dimilikinya, ditemukan dari para leluhur tempo dulu.

"Sehingga, ini bukan sekedar batik, tetapi mengajak semua kalangan dan generasi untuk bangga memakai sru g sebagai idnetitas bangsa dan warisan budaya Indonesia," tambah Gus Tomo.

Dia menyebut, batik adalah salah satu warisan budaya Indonesia yang kaya akan filosofi dan sejarah panjang.

Lebih dari sekadar kain, menurutnya batik memiliki makna mendalam yang terkait dengan kehidupan, kepercayaan, dan tradisi masyarakat Indonesia, terutama di Pulau Jawa.

"Setiap motif dan corak batik menyimpan pesan tertentu, menjadikan batik sebagai bentuk ekspresi budaya yang hidup di tengah masyarakat. Dan kini batik lekat dengan istilah simbolik atau identitas kebudayaan dari sebuah negeri yaitu Indonesia," tambahnya lagi.

Gus Tomo menjelaskan, seiring berjalannya waktu, seni batik mulai menyebar ke kalangan masyarakat umum dan daerah-daerah lain di luar Jawa.

Setiap daerah kemudian mengembangkan corak dan motif yang khas, mencerminkan keanekaragaman budaya Indonesia.

"Misalnya, batik Pekalongan terkenal dengan motif flora yang cerah, sedangkan batik Solo dan Yogyakarta lebih banyak menggunakan motif geometris dan warna-warna gelap yang sarat dengan simbolisme," terangnya.

 Filosofi dalam Setiap Motif Batik

 Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki corak dan ciri khas batik tersendiri.

Gus Tomo menjelaskan, batik tidak hanya dikenal karena keindahannya, tetapi juga karena filosofi yang terkandung dalam setiap motifnya.

 Adapun beberapa motif batik yang terkenal dan memiliki makna filosofis antara lain:

Batik Parang

 Motif ini melambangkan kekuatan, keteguhan, dan keberanian. Biasanya digunakan oleh para raja dan bangsawan untuk menunjukkan kewibawaan.

Batik Kawung

 Batik ini terinspirasi dari buah aren, motif ini melambangkan kesempurnaan dan keadilan.

Motif kawung sering dipakai dalam upacara adat sebagai simbol perlindungan dan keseimbangan hidup.

Batik Mega Mendung

Batik ini berasal dari Cirebon dan menggambarkan awan mendung di langit.

Filosofinya adalah kesabaran dan ketenangan dalam menghadapi setiap tantangan hidup.

Batik Sekar Jagad

Motif ini menggambarkan keindahan dan keragaman dunia. Filosofinya adalah harmonisasi dalam perbedaan, mencerminkan kehidupan yang damai dalam keberagaman.

"Jadi memang, batik merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai historis dan artistik tinggi. Proses pembuatan batik yang menggunakan teknik pewarnaan kain dengan motif-motif yang khas ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu," katanya.

Setiap daerah di Indonesia memiliki corak dan motif batik yang berbeda, seperti batik Yogyakarta yang cenderung memiliki warna-warna gelap dan motif geometris, atau batik Pekalongan yang kaya dengan warna cerah dan motif flora.

Selain itu, batik tidak hanya memiliki fungsi estetis, tetapi juga memiliki nilai filosofis yang mendalam.

Setiap motif batik sering kali memiliki makna tertentu yang berkaitan dengan kehidupan, alam, dan spiritualitas.

Misalnya, motif Parang dalam batik sering diartikan sebagai simbol kekuatan dan ketangguhan.

Dalam beberapa tahun terakhir, batik telah menjadi lebih populer dan lebih banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya pada acara-acara formal.

Desainer lokal dan internasional banyak yang mengangkat batik ke dalam koleksi busana mereka, sehingga membuat batik semakin dikenal di seluruh dunia.

Dan keindahan dari batik makin terlihat Ketika modernisasi mulai berkembang dengan tidak sama sekali menghilangkan ciri khas daari sebuah batik tersebut, karena batik juga identitas bangsa Indonesia.

Proses pembuatan batik

Dalam prosesnya, pembuatan batik dari awal hingga siap pakau membutuhkan 1-3 minggu, itupun tergantung dari tingkat kesulitan motif itu sendiri.

Untuk motif sidodrajat dibutuhkan waktu kurang lebih 1 minggu sampai finishing.

"Kenapa pembuatan sarung begitu relatif lama dalam pengerjaannya? Ada tahap demi tahap yang dilalui hingga menghasilkan warna kas dari batik itu sendiri," jelasnya.

Di mana, untuk pembuatan batik Sido Drakad yang pertama dilakukan adalah pembutan dasar pola motifnya.

Kedua adalah proses pencantingan dengan bahan malam, ketiga masuk tahap pengeblokan atau penutupan warna dasarnya tergantung berapa banyak warna yang dihasilkan.

Keempat kemudian proses pewarnaan yang dikehendaki. ke lima selanjutnya proses remekan supaya menghasilkan pola berseni remekan jika dikehendaki dan dicelupkan warna yang inginkan.

Keenam masuk proses pelorotan malam.

Terakhir ada proses penguncian warna supaya warna tidak cepat pudar kuat tahan lama karena yang dipakai bahan alami.

Editor : Bahana.
#sarung