Puasa ini diyakini membantu menenangkan pikiran, membersihkan hati, dan melancarkan jodoh.
Namun, apa sebenarnya Puasa Mutih, dan mengapa begitu istimewa?
Apa Itu Puasa Mutih?
Puasa Mutih adalah praktik berpuasa yang membatasi konsumsi makanan dan minuman hanya pada yang berwarna putih, seperti nasi putih dan air putih.
Dalam budaya Jawa, istilah "Mutih" bermakna "memutihkan," yang melambangkan proses membersihkan jiwa dari hawa nafsu. Puasa ini dianggap sebagai bentuk penyucian diri yang dilakukan dengan mengonsumsi makanan tanpa rasa (ngasrep).
Calon pengantin biasanya melakukannya selama tiga hari berturut-turut pada hari ganjil menjelang akad nikah.
Manfaat Puasa Mutih
Berikut adalah beberapa manfaat Puasa Mutih yang membuat tradisi ini tetap relevan hingga kini:
Membuat Aura Pengantin Berkilau
Puasa Mutih diyakini dapat membuka aura calon pengantin, khususnya pengantin perempuan. Efeknya membuat mereka terlihat lebih cantik, menawan, dan karismatik.
Selain itu, tradisi ini juga dipercaya membantu mencegah keluarnya keringat berlebih sehingga riasan tetap sempurna sepanjang hari pernikahan.
Menyeimbangkan Kadar Gula, Garam, dan Lemak
Dengan hanya mengkonsumsi nasi putih dan air putih, tubuh otomatis mengurangi asupan gula, garam, dan lemak berlebih. Ini membantu menjaga kesehatan tubuh, terutama menjelang momen penting seperti pernikahan.
Detoksifikasi Tubuh
Puasa Mutih juga menjadi metode alami untuk membersihkan racun dari tubuh.
Dengan membatasi jenis makanan yang dikonsumsi, proses detoksifikasi menjadi lebih cepat dan efektif.
Melatih Kesyukuran dan Menahan Hawa Nafsu
Selain manfaat fisik, Puasa Mutih juga melatih kesabaran dan rasa syukur. Melalui praktik ini, seseorang diajak untuk lebih menghargai hal-hal sederhana, seperti nasi putih, sebagai bentuk rezeki dari Allah SWT.
Tata Cara Melaksanakan Puasa Mutih
Puasa Mutih biasanya dilakukan selama tiga hari berturut-turut, dengan aturan sebagai berikut:
Membaca Niat
Sebelum memulai puasa, bacalah niat berikut:
"Saya niat puasa Mutih supaya putih batinku, putih badanku, putih seperti air suci karena Allah Ta'ala."
Seperti puasa pada umumnya, Puasa Mutih dimulai saat fajar hingga matahari terbenam. Sahur dilakukan dengan nasi putih dan air putih, dan berbuka juga dianjurkan dengan makanan yang sama.
Porsi makan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu.
Penulis: Abel Alma Putri
Sumber: Weddingku