Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Fenomena Miris di Lingkungan Profesi Pengabdi Masyarakat Dampak dari Tuntutan Orang Tua dan Lingkungan

Meitika Candra Lantiva • Sabtu, 25 Januari 2025 | 17:32 WIB
Berbagai penyebab perilaku menyimpang di tengah profesi.
Berbagai penyebab perilaku menyimpang di tengah profesi.


RADAR JOGJA - Profesi seperti kyai, guru, pejabat pemerintahan, polisi, TNI, dan dokter seringkali dianggap sebagai pilar moral dan pelayan masyarakat.

Namun, belakangan ini marak pemberitaan tentang perilaku menyimpang di kalangan para pelaku profesi ini, seperti kyai yang mencabuli santriwati, guru yang tidak sabar terhadap murid, hingga dokter yang terkesan judes terhadap pasien.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan apa yang menyebabkan pengabdi masyarakat menjalani tugas tanpa integritas atau empati?

Tuntutan orang tua dan lingkungan juga bisa menjadi salah satu faktor penyebabnya. 

Lalu bagaimana tuntutan dari orang tua dan lingkungan dapat memengaruhi perilaku tersebut?

1. Tekanan untuk Memenuhi Harapan Orang Tua


Banyak individu yang memilih profesi tertentu, seperti kyai, guru, atau dokter, karena dorongan atau harapan dari orang tua, bukan atas keinginan atau panggilan hati mereka sendiri.

Dampaknya seseorang tidak memiliki kecintaan terhadap profesinya, serta cenderung menjalani pekerjaan hanya sebagai rutinitas.

Sehingga ketidakpuasan ini berubah menjadi frustrasi, kurangnya empati, atau bahkan perilaku menyimpang.

2. Kompetisi yang Ditekan oleh Lingkungan

Lingkungan sosial sering kali menciptakan standar kesuksesan tertentu, seperti menjadi dokter atau tokoh agama yang dihormati.

Tuntutan ini membuat seseorang merasa tertekan untuk "sukses" secara cepat, terkadang dengan cara yang tidak etis.

Dalam beberapa kasus, bahkan ada yang menyalahgunakan otoritas mereka untuk mencapai pengakuan atau posisi tertentu.

Tentu saja hal tersebut tidak dapat dibenarkan, karena merupakan sesuatu yang menyimpang, akan tetapi mirisnya dianggap biasa atau bahkan lumprah oleh beberapa orang.

3. Trauma atau Pengalaman Masa Lalu

Tekanan dari orang tua atau lingkungan yang berlebihan sejak kecil dapat meninggalkan trauma psikologis yang memengaruhi perilaku seseorang di masa dewasa.

Seseorang yang pernah mengalami kekerasan atau ketidakadilan bisa mengulangi pola tersebut kepada orang lain.

Misalnya, guru yang tidak sabar karena dulu sering dimarahi, atau dokter yang kurang empati mungkin terbentuk dari lingkungan yang tidak mengajarkan pentingnya hubungan emosional dengan pasien.


4. Norma Sosial yang Kurang Sehat

Lingkungan yang cuek terhadap perilaku menyimpang, seperti tidak adanya sanksi tegas terhadap tokoh masyarakat yang melanggar norma, juga bisa mendorong individu untuk menyimpang.

Ketika perilaku buruk dianggap biasa, seseorang lebih mudah tergoda untuk mengikuti pola serupa tanpa rasa bersalah.


5. Kurangnya Dukungan Psikologis

Dalam banyak budaya, tekanan psikologis sering dianggap sebagai hal yang harus dihadapi sendiri.

Stigma terhadap konseling atau terapi membuat individu yang menghadapi tuntutan berat merasa terisolasi.

Apalagi pekerjaan yang berhubungan dengan pengabdian masyarakat, tentu memiliki banyak beban kerja.

Frustrasi dan stres yang tidak terkelola bisa meluas menjadi tindakan tidak profesional atau bahkan kriminal.


Solusi untuk Mengatasi Pengaruh Tuntutan Orang Tua dan Lingkungan


1. Mendorong Kebebasan Memilih Karir

Orang tua dan lingkungan harus mendukung individu untuk memilih profesi berdasarkan minat dan bakat mereka, bukan hanya karena status atau tradisi keluarga.

2. Meningkatkan Literasi Psikologi

Edukasi tentang pentingnya kesehatan mental dan pengelolaan stres harus ditingkatkan, terutama untuk profesi yang memiliki tekanan tinggi.


3. Menciptakan Lingkungan yang Mendukung

Institusi dan komunitas harus mendorong nilai-nilai empati, keterbukaan, dan apresiasi terhadap pengabdian tanpa menekankan kompetisi yang tidak sehat.


4. Menyediakan Dukungan Psikologis

Konseling dan terapi untuk pelaku profesi seperti guru, dokter, dan tokoh agama harus lebih mudah diakses untuk membantu mereka mengatasi tekanan yang mereka alami.

5. Memberikan Teladan Positif

Masyarakat dan media perlu menonjolkan sosok profesional yang bekerja dengan integritas dan empati untuk membangun budaya yang lebih positif.

Baca Juga: Tak Ada Lelang Tender, Alokasi Rp 22 Miliar Makan-Minum Akan Dikelola Masing-Masing OPD

Dengan mengatasi tekanan dari orang tua dan lingkungan, individu dalam profesi pengabdi masyarakat dapat menjalani tugas mereka dengan lebih tulus, profesional, dan penuh empati.

Fenomena ini menunjukkan pentingnya memperbaiki moralitas dan kinerja para pengabdi masyarakat.

Profesi yang melibatkan pengabdian harus dilandasi oleh semangat melayani, bukan sekadar bekerja.

Reformasi sistem, pendidikan nilai, dan peningkatan kesejahteraan menjadi langkah penting untuk memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap profesi-profesi ini. (Amrina Rosyada)

 
Editor : Meitika Candra Lantiva
#Profesi Pengabdi Masyarakat #faktor penyebab #miris #menjalani tugas tanpa integritas #dampak #fenomena #lingkungan