Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Fenomena Lavender Marriage: Antara Tekanan Sosial dan Kehidupan Pribadi

Bahana. • Jumat, 24 Januari 2025 | 00:47 WIB
Photo
Photo

RADAR JOGJA - Istilah lavender marriage ramai diperbincangkan di media sosial.

Fenomena ini mencerminkan kompleksitas antara tekanan sosial dan identitas pribadi.

Lantas, apa sebenarnya lavender marriage dan mengapa hal ini begitu menarik perhatian?

Apa Itu Lavender Marriage?

Lavender marriage merujuk pada pernikahan yang dilakukan sebagai kedok untuk menyembunyikan orientasi seksual salah satu atau kedua pihak yang tidak heteroseksual.

Pernikahan semacam ini biasanya dilakukan untuk memenuhi norma sosial yang mengharuskan seseorang hidup sesuai dengan standar heteronormatif.

Istilah ini muncul pada awal abad ke-20, terutama di Hollywood, di mana tekanan sosial dan hukum terhadap hubungan sesama jenis sangat kuat.

Kala itu, banyak aktor dan aktris yang menjalani lavender marriage demi melindungi karier mereka dari diskriminasi industri hiburan yang belum menerima keberagaman orientasi seksual.

Mengapa Lavender Marriage Terjadi?

Ada beberapa alasan di balik keputusan seseorang untuk menjalani lavender marriage.

Alasan utama mereka yang melakukan lavender marriage adalah tekanan menghadapi tuntutan keluarga untuk menikah, demi mempertahankan status sosial atau melanjutkan keturunan.

Di Indonesia, norma yang terbangun di masyarakat menyiratkan menikah pada usia tertentu dianggap wajib.

Contoh Lavender Marriage

Lavender marriage banyak dilakukan oleh publik figur yang menganggap karir dan reputasi mereka adalah prioritas utama.

Pernikahan seperti ini sering menjadi jalan pintas bagi mereka untuk mempertahankan citra positif di mata publik.

Contoh terkenal adalah aktor Hollywood legendaris Rock Hudson, yang menikahi sekretarisnya untuk menutupi orientasi seksualnya.

Dalam kasus seperti ini, biasanya ada kesepakatan bersama antara pasangan untuk menjaga rahasia tersebut.

Istilah lavender marriage kembali mencuat dalam konteks lokal Indonesia ketika nama Sherina Munaf dan Baskara Mahendra disebut-sebut. Spekulasi warganet muncul terkait dugaan bahwa pernikahan mereka dilakukan demi mempertahankan citra salah satu pihak.

Dampak dari Adanya Lavender Marriage

Keputusan menjalani lavender marriage seringkali membawa dampak besar bagi kehidupan individu, di antaranya:

Tekanan Psikologis

Mereka yang menjalani lavender marriage harus menjalani kehidupan yang bertolak belakang dengan identitas diri mereka.

Alhasil, hal ini dapat memicu stres baik secara emosional maupun mental.

Krisis Identitas

Baca Juga: Prediksi FC Porto vs Olympiacos Europa League Jumat 24 Januari Kick Off 00.45, H2H dan Susunan Pemain, Siapa Pemenangnya?

Publik figur yang melakukan lavender marriage untuk menjaga citra mereka, dapat membuat mereka bingung akan identitas mereka secara psikologis.

Risiko Perceraian

Banyak kasus menunjukkan bahwa hubungan lavender marriage sulit dilakukan, karena tidak didasari oleh cinta dan perasaan yang murni.

Pada akhirnya, banyak terjadi perceraian yang diakibatkan oleh lavender marriage.

Penulis: Abel Alma Putri

Editor : Bahana.
#Lavender Marriage