RADAR JOGJA - Dosen Departemen Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Sasiana Gilar Apriantika mengamati, fenomena open trip masif dilakukan oleh anak muda. Ada beberapa alasan yang mendasari seseorang melakukan open trip. Yakni untuk investasi atau menambah pengalaman, hingga mencari kesenangan ataupun aktualisasi bagi diri sendiri.
"Anak muda lebih suka atau lebih banyak invest uangnya untuk sebuah pengalaman, bukan aset atau properti," katanya pada Radar Jogja Jumat (27/12/2024).
Kata Sasiana, hal tersebut terjadi salah satunya dikarenakan karakteristik generasi yang memang berbeda. Dia mencontohkan, generasi baby boomers dan milenial, lebih mengutamakan investasi pada aset, properti, atau hal-hal lain yang lebih primer.
"Karakter generasinya beda, baby boomers atau milenial itu mungkin juga open trip, tapi setalah finansialnya stabil," ungkapnya.
Menurutnya, salah satu contoh paling nyata dari open trip yang dilakukan baby boomers dan milenial adalah umrah. “Itu kan termasuk juga," sambungnya.
Pola pikir dan perilaku tersebut, kata Sasiana secara garis besar tidak tercermin di generasi muda saat ini. Yakni, generasi Z maupun Alpha.
Baca Juga: Seharusnya Tidak Setiap Orang Bisa Beli Bahan Kimia, Perketat Regulasi Penjualan Air Keras
Generasi muda saat ini, cenderung lebih impulsif untuk mengeluarkan atau menginvestasikan uangnya. Dengan open trip jadi salah satu kegiatan yang diambil. "Dengan open trip itu anak muda dapat pengalaman baru, momen baru, itu yang mereka cari saat ini," lontarnya.
Sedangkan alasan orang melakukan open trip bersama seseorang yang tidak dikenal, adalah untuk mencari ketenangan atau kesenangan bagi dirinya sendiri. "Fokusnya tentu ke diri sendiri, dia bisa merasa tetap senang meski di perjalanan atau kegiatan itu tidak ada yang dikenal dekat," urainya.
Secara karakteristik, individu idealnya lebih mudah atau nyaman untuk jalan atau melakukan kegiatan dengan orang yang memang sudah dikenal atau akrab. "Jadi saya pikir tidak semua orang itu mau dan bisa juga untuk open trip," sebutnya.
Kendati demikian, open trip juga memiliki berbagai sisi positif. Mulai dari membiasakan diri untuk interaksi dan melakukan kegiatan sosial yang lebih kompleks. Hingga jadi momentum untuk semakin mengenal diri sendiri.
Namun ada pula hal yang perlu diperhatikan saat open trip. Mulai dari travel agent yang mungkin bisa menipu atau menyesatkan, hingga rekanan perjalanan yang mungkin melakukan hal-hal sporadis bersifat membahayakan.
"Jelas open trip butuh keberanian, dan harus selalu siap dengan berbagai kemungkinan," pesannya. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita