RADAR JOGJA - Pilihan untuk berwisata semakin berkembang dengan adanya sistem open trip. Perjalanan lewat grup wisata ini dinilai lebih ekonomis dan ringkas.
Salah satu yang pernah mengikuti wisata open trip adalah Arinda Qurnia Yulfidayanti. Perempuan asal Kapanewon Prambanan ini berpergian ke Suku Badui.
Kegiatan selama dua hari satu malam, dia cukup membayar Rp 200 ribu. Para peserta sudah mendapatkan fasilitas makan, akses wisata, foto dokumentasi, hingga penjemputan di terminal.
Baca Juga: Berstatus DPO, Tersangka Politik Uang Kiskandar Jalani Sidang Praperadilan Perdana lewat Kuasa Hukum
Dia tidak perlu lagi memikirkan biaya memasuki tempat wisata. Selain itu, asuransi keselamatan juga sudah dijamin lewat tiket masuk. "Aku enggak perlu buat persiapan sendiri. Cukup mengikuti jadwal yang sudah ada," ucapnya.
Meski pergi sendiri, Arinda mengaku tidak khawatir. Sebab ikut bersama open trip justru berarti dia akan pergi bersama dengan banyak orang. Di sini Arinda mengaku bisa bertemu dengan teman yang cocok dan menyenangkan.
"Daripada cari teman lama mending ikut open trip. Pasti ada teman dan pemandunya," katanya.
Baca Juga: Toko Sembako di Ponjong Gunungkidul Dilalap Api, Tabung Gas Terbakar Habis Kerugian capai Rp 20 Juta
Meski demikian, dia menekankan pentingnya riset pemilik usaha open trip. Ini bisa dilakukan dengan bertanya detail hingga melihat testimoni. Jadi, bisa mendapatkan pemilik usaha yang kredibel.
"Pesanku jangan pasrah sepenuhnya pada open trip tanpa melakukan riset sendiri. Harus bertanggung jawab atas dirimu sendiri," imbaunya.
Hal senada disebutkan oleh Muhammad Hasan Syaifurrizal Al-Anshori. Dia mengatakan pergi ke Kawah Ijen dengan biaya Rp 460 ribu untuk dua hari satu malam. Peserta sudah mendapatkan fasilitas transportasi, makan, suvenir, penginapan, hingga dokumentasi. "Jadi enggak usah mikir apa-apa lagi, tinggal berangkat aja," katanya.
Baca Juga: Hasil Semen Padang vs Arema FC, Singo Edan Taklukkan Kabau Sirah, Akhiri 2024 dengan Tiga Poin
Dia menilai, open trip sudah memiliki jadwal yang tetap dan menyangkut kepentingan orang banyak. Sehingga, peserta tidak bisa bebas mengikuti keinginannya.
"Di open trip kadang ada kunjungan ke toko oleh-oleh, padahal belum tentu mau ke sana," ucapnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita