RADAR JOGJA - Sebuah toko buku di Jalan Mondorakan Nomor 5, Prenggan, Kotagede, Yogyakarta menyimpan cerita menarik.
Toko Buku Natan memanfaatkan salah satu sudut bangunan cagar budaya yang telah berdiri sejak 1857.
Bangunan ini tidak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga menjadi bagian dari Ndalem Natan Royal Heritage, properti yang kini berusia 166 tahun.
Pemilik Ndalem Natan Nasir Tamara mengungkapkan, bangunan ini dulunya adalah kediaman seorang saudagar kaya di Yogyakarta.
Empat tahun lalu, sebelum pandemi, ia memutuskan untuk membuka Toko Buku Natan sebagai bagian dari atraksi di kawasan cagar budaya ini.
Gagasan tersebut muncul setelah melihat potensi ruang kosong yang strategis menghadap ke jalan, di tengah minimnya toko buku di kawasan selatan Yogyakarta.
Menurut Nasir, selama puluhan tahun, toko buku lebih banyak berpusat di wilayah utara kota.
Ia ingin memberikan akses yang lebih dekat bagi mahasiswa dan wisatawan untuk mendapatkan buku berkualitas dengan harga terjangkau.
Kawasan Kotagede yang dikelilingi banyak kampus dan menjadi destinasi wisata penting dinilai cocok untuk mendukung inisiatif ini.
Toko buku tersebut menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan toko buku modern lainnya.
Di sana, pengunjung tidak akan menemukan alat tulis, tas, atau perlengkapan lainnya.
Fokus utama adalah koleksi buku yang dikurasi secara ketat untuk menjaga kualitas dan relevansinya.
Toko Buku Natan buka setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 18.00 WIB, kecuali pada hari libur nasional.
Dengan koleksi lebih dari seribu judul, tema buku yang ditawarkan sangat beragam, mulai dari sejarah, filsafat, seni rupa, politik, budaya, hingga fiksi dan komik.
Toko ini juga menyediakan buku-buku yang sulit ditemukan di toko besar.
Sebagai bagian dari misinya melestarikan budaya Jawa, Nasir menyebut koleksnya fokus pada topik-topik seputar budaya Jawa.
Mulai dari sejarah hingga resep makanan khas Jawa, salah satu yang menarik adalah buku resep masakan milik Presiden Soekarno yang mencapai seribu halaman.
Setengah dari koleksi di toko ini terdiri dari buku-buku berbahasa Inggris, menjadikannya salah satu toko buku dengan nuansa internasional di Yogyakarta.
Sisanya adalah buku berbahasa Indonesia, termasuk karya penulis terkenal seperti Dee Lestari, Eka Kurniawan, Ahmad Fuadi, dan Leila Chudori.
Buku dengan tema pengembangan diri disebut menjadi koleksi terlaris di toko ini, menarik minat pembaca yang ingin meningkatkan potensi pribadi mereka.
Bangunan yang ditempati toko buku ini memiliki keunikan tersendiri, mengusung perpaduan arsitektur Eropa dan Jawa.
Gaya Art Nouveau merepresentasikan pengaruh Eropa, sedangkan ornamen Islami mencerminkan budaya Jawa.
Pilar besar, lampu gantung, dan teras berdesain khas Eropa menyambut pengunjung begitu mereka tiba.
Meskipun berusia lebih dari satu abad, bangunan ini tetap terawat dengan baik, sejalan dengan misi Nasir untuk menjadikannya rumah budaya.
Selain toko buku, kompleks Ndalem Natan juga mencakup kafe, museum, guest house, dan pendopo.
Perabotan di guest house dirancang agar selaras dengan tema bangunan yang vintage, menampilkan kursi, meja, dan lemari yang memberi nuansa lawas.
Kawasan ini pun terlihat asri berkat banyaknya pohon rindang, ditambah berbagai spot foto yang instagramable, menjadikannya daya tarik bagi anak muda.
Pendopo di tengah area sering digunakan untuk kegiatan budaya seperti latihan gamelan dan tari tradisional.
Namun, pertunjukan seni tersebut tidak digelar setiap hari. Informasi jadwal dapat diakses melalui akun Instagram resmi mereka.
Museum di Ndalem Natan menawarkan koleksi berharga seperti batik, mebel, lukisan, dan perhiasan logam mulia.
Pengunjung dikenakan biaya Rp 50 ribu untuk menikmati pengalaman ini, lengkap dengan panduan dan minuman selamat datang.
Di sisi lain, galeri seni menampilkan lukisan karya seniman lokal, yang diperbarui secara berkala hingga tiga kali setahun.
Bagi para penikmat kopi, kedai kopi yang berlokasi dekat toko buku menawarkan menu menarik dengan harga mulai dari Rp 27 ribu.
Pilihan seperti Natan Cassava, bitterballen, bakmi Jowo, dan kopi lokal menjadi favorit pengunjung.
Keberadaan Toko Buku Natan dan seluruh kompleksnya mencerminkan visi Nasir untuk menciptakan rumah budaya yang tidak hanya melestarikan sejarah, tetapi juga menghadirkan pengalaman unik bagi pengunjung.
Baik untuk membaca, menikmati seni, atau sekadar bersantai, tempat ini menjadi oase budaya di tengah hiruk pikuk Yogyakarta.
Editor : Winda Atika Ira Puspita