Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ngamen Online: Respons terhadap Krisis Ekonomi atau Pencarian Keuntungan Instan? Ini Kata Sosiolog UIN Sunan Kalijaga

Gunawan RaJa • Sabtu, 30 November 2024 | 14:00 WIB

 

 

Sosiolog UIN Sunan Kalijaga Achmad Uzair
Sosiolog UIN Sunan Kalijaga Achmad Uzair

RADAR JOGJA - Fenomena ngamen online di berbagai platform digital kini semakin menjadi sorotan. Aktivitas memanfaatkan aplikasi streaming demi uang, dipandang sejumlah pakar sebagai respons terhadap krisis sistem ekonomi yang tengah melanda masyarakat.

Sosiolog Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Jogjakarta Achmad Uzair bahkan menyebut, fenomena ngamen online bisa dilihat sebagai warning terkait ketidakstabilan ekonomi. “Menjadi sinyal sistem ekonomi sedang tidak baik-baik saja,” kata Uzair Jumat (15/11/2024).

 Baca Juga: Hujan Disertai Angin di Kabupaten Bantul Sebabkan 28 Kejadian, Terbaru Ada Longsor di Kawasan Dlingo

Diakui, ngamen online memberikan peluang bagi individu memperoleh penghasilan melalui hobi atau keterampilan. Namun tidak sedikit yang justru terjebak dalam pencarian keuntungan instan. Tanpa memperhatikan nilai estetika dari seni itu sendiri. 

“Seringkali yang lebih ditekankan aspek finansial, bukan apresiasi terhadap seni,” ucapnya.

Meski tak sedikit yang berhasil memperoleh keuntungan, tidak semua pelaku ngamen online berhasil mengembangkan ekspresi seni mereka dengan baik. Sebagian besar hanya fokus pada pencarian uang receh. Terutama bagi mereka yang tidak memiliki akses pada modal atau fasilitas dalam mengembangkan keterampilan seni lebih mendalam.

 Baca Juga: Ijazah Ditahan karena Kurang Biaya, Dinsos Sleman Sebut Siswa Dapat Ajukan Bantuan Jaring Pengaman Sosial

“Ngamen online sering dipandang hanya sebagai cara cepat mengumpulkan uang, bukan sebagai ekspresi keseriusan seni,” jelasnya.

Meski demikian, fenomena ini tetap menunjukkan bahwa di balik kebutuhan finansial, ada sebagian orang dengan tulus dalam mengekspresikan seni mereka. "Bagi mereka, ngamen online adalah bentuk ekspresi. Juga memiliki makna mendalam, meskipun tak selalu diakui oleh masyarakat," bebernya.

 Baca Juga: Rumah Subsidi di DIY Masih Banyak yang Kosong, DPD REI DIY: Datanya Masih Perlu Sinkronisasi

Pihaknya menggarisbawahi pentingnya peran pemerintah dan pihak terkait membuka pintu bagi para pelaku seni dalam dunia digital. Misalnya diadakan festival budaya atau menyediakan platform digital, pro perkembangan seni dan budaya. 

“Pemerintah dan berbagai pihak perlu membuat ruang lebih baik demi mendukung ekspresi seni dan budaya, bukan hanya sebagai sarana pencarian keuntungan,” tegasnya.

 

Tantangan besar ke depan adalah mengubah persepsi masyarakat terhadap kreativitas. Banyak orang masih memandang seni dan budaya dengan sebelah mata. Menganggapnya sepele dan kurang penting. 

 Baca Juga: Sunaryanta Pesan ke Endah Subekti Prioritaskan Pembangunan SDM Gunungkidul 

"Padahal, jika diberikan dukungan dan kesempatan, ekspresi seni bisa berkembang lebih jauh dan memberi dampak positif bagi masyarakat," sebutnya.

Meskipun masih menghadapi banyak tantangan, ngamen online menunjukkan bahwa seni dan ekonomi digital bisa berjalan seiring. Dengan apresiasi, ekosistem ekonomi kreatif diyakini dapat berkembang menjadi sektor lebih inklusif dan bermanfaat.

 Baca Juga: Hotel Ganeca dan Mini Zoo Disorot, DPRD dan Pemkab Purworejo Sepakati Raperda APBD 2025

“Kita masih membutuhkan perubahan dalam cara pandang masyarakat terhadap nilai seni itu sendiri,” ujarnya. (gun/eno)

 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#sosiolog #penghasilan #Straming #sinyal #Individu #keuntungan #ngamen online #sunan kalijaga #Aktivitas #hobi #Universitas Islam Negeri (UIN) #ASPEK #Warning #aplikasi #pakar #krisis #sorotan #ketidakstabilan #melanda #peluang #Seni #fenomena #uang #respons #bud #platform #digital #masyarakat #sistem #Ekspresi #apresiasi #keterampilan #Jogjakarta #ruang #finansial #Ekonomi