RADAR JOGJA - Fenomena alam yang menarik perhatian mewarnai daerah Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) beberapa hari terakhir ini.
Ribuan ulat jati, atau masyarakat lokal menyebutnya "ulat besi," terlihat bergelantungan di beberapa kawasan di Gunungkidul.
Peristiwa ini terjadi menjelang musim hujan, seiring meningkatnya kelembapan udara.
Kemunculan ulat-ulat jati bukanlah hal baru, karena biasanya terjadi setahun sekali, bersamaan dengan tumbuhnya daun-daun muda pada pohon jati.
Ulat-ulat tersebut bergelantungan menggunakan benang halus yang dihasilkan dari tubuh mereka.
Mereka kerap jatuh ke tanah atau menempel pada pengendara yang melintas, sehingga mengganggu aktivitas warga.
Untuk mengatasi situasi tersebut, masyarakat mencoba berbagai cara agar terhindar dari kontak langsung dengan ulat jati.
Dalam video yang tersebar di media sosial, terlihat pengendara motor menggunakan jas hujan lengkap dan helm sebagai perlindungan.
Beberapa dari mereka juga membawa tongkat untuk menghalau ulat yang menggantung di udara.
Benang yang dihasilkan ulat jati tidak hanya digunakan untuk bergelantungan, tetapi juga berfungsi melindungi diri mereka dari ancaman predator.
Meski demikian, penampakan ribuan ulat yang melayang di udara kerap menciptakan kesan menyeramkan.
Banyak orang merasa merinding hanya dengan melihat video yang merekam kejadian ini.
Tidak hanya di jalanan, ulat-ulat jati juga memasuki rumah-rumah, termasuk ruang dapur, kamar tidur, dan teras.
Walaupun ulat ini nantinya berubah menjadi kepompong yang kaya nutrisi, keberadaannya tetap dianggap mengganggu oleh sebagian besar masyarakat.
Bagi masyarakat yang terganggu, berikut beberapa langkah sederhana untuk melindungi diri dari hujan ulat jati saat bepergian:
1. Gunakan Pakaian Tertutup
Pakaian tertutup seperti lengan panjang, celana panjang, dan sepatu dapat melindungi tubuh dari kontak langsung dengan ulat.
Sebaiknya gunakan bahan yang ringan namun tetap rapat agar nyaman saat dikenakan, terutama di cuaca panas.
2. Hindari Berhenti di Bawah Pohon Jati
Jika melintas di kawasan pohon jati, usahakan untuk tidak berhenti terlalu lama di bawahnya.
Ulat atau bulunya yang jatuh dari pohon dapat menempel pada kulit atau pakaian.
Jika memungkinkan, cari rute alternatif atau pilih lokasi yang lebih aman untuk beristirahat.
3. Gunakan Pelindung Kepala
Masker, kacamata, topi, atau payung bisa menjadi perlengkapan tambahan untuk melindungi wajah dan bagian tubuh lain dari bulu ulat yang terbawa angin.
Perlengkapan ini sangat berguna saat melewati daerah dengan populasi ulat yang tinggi.
Baca Juga: Head to Head PSS Sleman vs PSBS Biak, Laskar Sembada Selalu Raih Kemenangan dengan Cleansheet
4. Oleskan Losion Anti-Serangga
Penggunaan losion anti-serangga bisa membantu melindungi kulit dari iritasi akibat ulat atau serangga lainnya.
Pastikan losion yang digunakan aman dan cocok, terutama jika memiliki kulit sensitif.
5. Perhatikan Kondisi Lingkungan
Sebelum berhenti atau melintas, amati area sekitar. Hindari tempat dengan dedaunan gugur atau yang terlihat ada sarang ulat.
Langkah sederhana ini bisa mengurangi risiko terpapar bulu ulat.
6. Segera Bersihkan Diri
Jika merasa terkena ulat, segera bersihkan bagian tubuh yang terkena menggunakan sabun dan air mengalir.
Pakaian yang dikenakan juga perlu dicuci dengan air hangat untuk memastikan tidak ada ulat yang menempel.
Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, diharapkan masyarakat dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman meskipun sedang menghadapi fenomena ulat jati tersebut. (Fedora Reyvi Apta Nayottama)
Editor : Meitika Candra Lantiva