Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Thrifting Kebaya Jadi Pilihan Anak Muda untuk Temukan Desain Unik, Barang Bekas Tak Jadi Masalah

Elang Kharisma Dewangga • Sabtu, 2 November 2024 | 14:00 WIB

 

LAYAK PAKAI: Kebaya bekas yang dijual dan diminati kalangan anak muda tetap layak pakai. Bahkan kebaya bekas ini memiliki harga yang terjangkau.
LAYAK PAKAI: Kebaya bekas yang dijual dan diminati kalangan anak muda tetap layak pakai. Bahkan kebaya bekas ini memiliki harga yang terjangkau.
 

RADAR JOGJA - Kebaya identik dengan kesan kuno. Melekat dengan pakaian para kaum ibu. Namun, itu dulu. Kini, kebaya justru dipilih kalangan muda untuk berbusana.

Bahkan untuk tampil keren dengan berkebaya, tidak melulu harus dengan kebaya baru. Bisa juga tetap terlihat keren dengan kebaya lawas atau bekas. Oleh karena itu, banyak pembeli yang memilih thrifting. Yakni membeli produk bekas namun berkualitas dan layak pakai. Sehingga bisa membantu mengurangi limbah fashion.

 Baca Juga: Tumbuhkan Kesadaran Energi Terbarukan, MAN 4 Bantul Bawa Siswa ke Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid (PLTH) Pantai Baru Srandakan, Ini Tujuannya

Salah satu pembeli kebaya bekas adalah Desy Wulandari. Dia mengaku telah beberapa kali thrifting kebaya yang memiliki desain unik.  “Biasanya buat aku pakai di acara-acara tertentu. Pakai kebaya karena aku suka tampil yang beda gitu kalau di acara," ujarnya Jumat (18/10/2024).

Dia mengaku mulai suka memakai kebaya karena dikenalkan oleh ibunya. Sementara membeli dengan cara thrifting, dianggap Desy sebagai sebuah kenikmatan sendiri. “Seni berburu karena kan sama kayak ngawul juga. Kebaya juga bisa kok dipadupadankan sama fashion sekarang, pakai celana atau rok,” ungkapnya.

Dia menyebut, harga kebaya bekas yang dibelinya cukup terjangkau. Contohnya kebaya sifon miliknya yang dia beli dengan harga Rp 70 ribu. Sementara kebaya encim miliknya dia dapatkan dengan harga Rp 80 ribu. Kini dia mengaku telah memiliki tiga kebaya yang dibeli secara thrifting. “Itu semuanya beli di Pasar Beringharjo. Ada juga kebaya bekas tapi lungsuran dari ibu, jadi nggak termasuk beli,” kata perempuan 30 tahun ini.

Dia sendiri tidak pernah mempermasalahkan soal kebersihan kebaya bekas yang dibelinya. Toh, dirinya juga pernah membeli kemeja flanel thrifting alias ngawul. Usai membeli kebaya thrift, Desy selalu langsung mencucinya. “Paling aman pakai tangan, terutama buat yang berbahan brokat,” ucap warga Pandeyan, Umbulharjo, Kota Jogja ini.

Meskipun termasuk bekas, namun kebaya yang dia beli terbuat dari bahan yang baik. Sehingga kualitas kainnya masih terjaga. Desy bahkan mengaku merasa lebih puas daripada membeli yang baru. Namun begitu, Desy sendiri juga memiliki satu kebaya baru.

 

 

 

Harga Lebih Terjangkau

 

Peminat lainnya adalah Ni'ma Nurin. Dia menjelaskan, baju bekas harganya jauh lebih terjangkau, tetapi kualitasnya juga baik. Untuk satu baju kebaya, dia hanya perlu mengeluarkan biaya Rp 5 ribu hingga Rp 25 ribu. 

"Ada temenku yang jualan thrift dan aku selalu nunggu kebayanya dia. Di sana motifnya bagus dan rusaknya minim," ujar Ni'ma. 

Umumnya dia akan mencari kebaya kutu baru dengan warna yang cerah. Apabila ada kerusakan, dia akan mempertimbangkan apakah bisa diperbaiki atau tidak. 

Menurut Ni'ma, tidak ada perlakuan khusus saat akan memakai kebaya bekas. Cukup dicuci seperti biasa. Meski begitu, kadang perlu kehati-hatian lantaran bisa jadi kainnya sudah rapuh. "Kalau keluhan gatel-gatel itu enggak pernah aku rasain," ucapnya. 

Meski dulu kala anak-anak dia memandang kebaya adalah baju kuno, dia mengaku kini kebaya bisa memberi kesan cantik yang khas. 

Ni'ma akan memadukan kebaya dengan mode modern. Misalnya, celana pendek, jeans, hingga celana kargo. "Aku justru enggak pakai jarik. Enggak pakai sanggul juga," ucapnya. 

Perempuan 24 tahun ini menjelaskan, kerap mengenakan kebaya di banyak momen. Termasuk kegiatan sehari-hari. Namun, yang sedang dia gandrungi adalah mengenakannya kala menonton konser. "Aku enggak peduliin sekitar. Kalau dilirik atau apa ya sudah. Intinya ciptain gayaku sendiri," ucapnya. 

Mahasiswa yang tengah sibuk mengerjakan skripsi ini mengaku, sejujurnya tidak ada niat untuk mengenalkan budaya kebaya. Dia menilai sudah banyak yang tahu bahwa kebaya adalah produk Indonesia. Ni'ma melakukan ini murni karena minatnya pada kebaya. "Kebaya itu macem-macem. Intinya cari yang nyaman aja kainnya. Jadi biar enggak panas," tandasnya. (tyo/del/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#desain unik #tren #anak muda #lifestyle #bekas #harga murah #terjangkau #kebaya #pakaian #Thrifting